Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kasus HIV di Denpasar Sempat Didominasi LSL, Stigma Negatif Hambat Deteksi dan Pencegahan, Ini Cerita tentang Mereka

Marsellus Nabunome Pampur • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 20:55 WIB
BEBERKAN CERITA : Salah satu penyintas HIV (kiri), dan Dewa Nyoman Suyetna, Pengelola Program HIV Klinik Utama WM Medika, Yayasan Kerti Praja (tengah).( Marsellus Pampur)
BEBERKAN CERITA : Salah satu penyintas HIV (kiri), dan Dewa Nyoman Suyetna, Pengelola Program HIV Klinik Utama WM Medika, Yayasan Kerti Praja (tengah).( Marsellus Pampur)

 

Perkembangan terkini, jumlah kasus baru infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Denpasar dan Badung masih menjadi sorotan, dengan rata-rata belasan kasus ditemukan setiap bulannya.Mirisnya, mayoritas dari kasus positif baru tersebut berasal dari kelompok Laki-laki Seks Laki-laki (LSL).

DATA ini diungkapkan oleh Dewa Nyoman Suyetna, Pengelola Program HIV Klinik Utama WM Medika, Yayasan Kerti Praja, dalam kegiatan Advokasi Media bertajuk "Media Tanpa Stigma untuk Ending AIDS 2030" yang diselenggarakan oleh AHF Indonesia dan Kelompok Jurnalis Peduli AIDS Bali di Denpasar, Sabtu (11/10/2025).

Suyetna memaparkan, berdasarkan data Yayasan Kerti Praja untuk bulan Juni 2025, dari ratusan orang yang dites, 15 orang dinyatakan positif. Angka positif berlanjut di bulan Juli (11 orang) dan Agustus (15 orang).

"Dari jumlah yang positif tersebut, rata-rata 10 orang adalah LSL. Ini belum termasuk waria dan trans gender," kata Suyetna, menyoroti bahwa kelompok LSL menjadi yang paling rentan. Selain HIV, kelompok LSL juga terdeteksi banyak terjangkit Penyakit Menular Seksual (PMS) lainnya seperti sifilis.

Stigma Menjadi Tantangan Utama

Tingginya angka kasus pada kelompok LSL disebut Suyetna sebagai dampak dari sulitnya proses deteksi. Stigma negatif yang kuat dari masyarakat dan bahkan keluarga membuat mereka enggan untuk melakukan tes rutin.

"Penanganan HIV/AIDS sendiri mengalami banyak kendala di lapangan. Salah satunya stigma masyarakat dan bahkan pemerintah," tegas Suyetna.

Ia juga menyoroti kurangnya dukungan pemerintah dalam pencegahan, khususnya terkait kondom. "Salah satunya adalah kondom yang diedarkan pemerintah hanya dalam program KB saja. Padahal, pemerintah juga seharusnya membagikan kondom untuk pencegahan penularan," jelasnya.

Berbeda dengan LSL, Suyetna menyebut bahwa Pekerja Seks Komersial (PSK) di Denpasar dan Badung justru menunjukkan kesadaran yang lebih baik dalam melakukan tes rutin. Pihaknya bahkan proaktif mendatangi lokalisasi. Namun, petugas kini kesulitan menjangkau PSK yang bertransaksi secara daring melalui aplikasi di media sosial.

Diskriminasi Hantui Penyintas

Nana Widiestu, Koordinator Program AHF (AIDS Healthcare Foundation) Indonesia, menambahkan bahwa diskriminasi terhadap pengidap HIV adalah masalah serius yang sering mereka hadapi. Stigma ini muncul akibat minimnya pengetahuan masyarakat tentang HIV.

"Salah satu isu yang menjadi konsen kami di AHF Indonesia, masalah pencegahan sangat diperlukan. Salah satunya yang paling murah dan efektif adalah penggunaan kondom. Tapi isu ini sensitif," ujar Nana.

AHF berharap isu kondom dapat diterima lebih luas sebagai upaya pencegahan. Ia juga mengapresiasi respons Pemerintah Provinsi Bali yang dianggap cukup responsif. "Secara ranking Bali, kondisi yang ada di peringkat 5-6 nasional. Tapi pemerintah ya cukup responsif untuk membantu kami. Sehingga Bali bisa dijadikan role model untuk penanganan HIV/AIDS bagi daerah lain," harapnya.

Kisah Pilu Penyintas yang Takut Ditinggal Keluarga

Tantangan stigma ini dirasakan langsung oleh salah satu penyintas HIV yang berprofesi sebagai PSK, Mbak Tyas (bukan nama sebenarnya). Ia mengaku tertular HIV sejak tahun 2016 saat bekerja di Papua, di mana ia hanya diberi pesangon dan diminta pulang tanpa penanganan medis.

Setelah pindah ke Bali dan menjalani terapi di Klinik Utama WM Medika, Mbak Tyas kini menjadi relawan untuk mengajak PSK lain melakukan tes. Namun, mirisnya, demi tuntutan ekonomi ia masih harus menjalani pekerjaan sebagai PSK dan mewajibkan pelanggannya menggunakan alat kontrasepsi.

Yang paling menyakitkan, hingga kini Mbak Tyas belum berani memberitahu keluarganya, termasuk anak dan suami, perihal status HIV-nya.

"Saya belum memberi tahu keluarga, bahkan anak dan suami. Karena saya takut didiskriminasi di tengah keluarga. Takut ditinggal pasangan saya. Dijauhin lingkungan," tuturnya, menutup kisah pahit penyintas yang terus berjuang melawan virus sekaligus stigma. [*]

Editor : Hari Puspita
#lsl #stigma negatif #HIV / AIDs #penyintas