RADAR BALI - Ada gunung es di bidang kesehatan yang harus segera ditangani serius oleh pemerintah.
Hasil cek kesehatan gratis yang dilakukan Kementerian Kesehatan hingga 5 Oktober 2025, sepertiga penduduk Indonesia mengalami obesitas sentral yang berisiko meningkatkan pasien diabetes (kencing manis) dan hipertensi (tekanan darah tinggi).
Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono mengatakan, kunci efisiensi pembiayaan kesehatan dan peningkatan usia harapan hidup adalah deteksi dini.
Ia menyoroti bahwa inflasi kesehatan secara global selalu melampaui pertumbuhan ekonomi (GDP), sehingga Indonesia harus cerdas dalam membelanjakan anggarannya.
"Pembiayaan kesehatan per individu di Indonesia baru sekitar $150 per tahun, dengan angka harapan hidup 71 tahun," katanya.
Program CKG membuktikan keberhasilannya dalam menjangkau masyarakat. Per pertengahan Oktober 2025, program ini telah mencatat 44.910.083 pendaftar dengan 41.899.205 orang hadir dan mendapatkan pelayanan di seluruh Indonesia.
"Angka ini luar biasa. Ini menunjukkan gerakan pencegahan penyakit sudah mulai menjadi budaya," ujar Wamenkes.
Dari hasil pemeriksaan dasar yang dilakukan di 10 ribu puskesmas dan 125 ribu sekolah, Kemenkes menemukan sejumlah masalah kesehatan utama adalah obesitas sentral (perut buncit).
Menurut Kemenkes, total 44 juta orang yang melakukan pemeriksaan kesehatan gratis, sebanyak 15 juta orang mengalami obesitas. Artinya, sekitar sepertiga populasi usia dewasa di Indonesia mengalami obesitas.
Wamenkes menggarisbawahi pentingnya lingkar perut. Menurut Dante, lingkar perut laki-laki di atas 90 cm dan perempuan di atas 80 cm menunjukkan peningkatan risiko penyakit jantung dan penyakit tidak menular lainnya.
Temuan CKG menunjukkan obesitas sentral dan diabetes sebagai masalah paling banyak ditemukan.
Dante mengungkapkan, 70 persen penderita diabetes dan tiga kali lipat penderita hipertensi baru diketahui sakit saat pemeriksaan dilakukan.
Sedangkan pada bayi baru lahir, penyebab kematian tertinggi adalah berat badan lahir rendah.
Pada anak sekolah, masalah utama adalah kesehatan gigi dan munculnya anak-anak obesitas di kota besar.
Sementara pada lansia, tekanan darah tinggi (hipertensi) menjadi temuan paling dominan.
Tujuan utama dari CKG adalah mencegah masyarakat jatuh dalam kondisi berat yang membutuhkan biaya besar, seperti stroke, gagal ginjal, atau serangan jantung.
Selain CKG, pemerintah mencatat kemajuan dalam pengendalian TBC dan pembangunan infrastruktur.
Berdasarkan data Sistem Informasi TBC (SITB) per 5 Oktober 2025, penemuan kasus mencapai 621 ribu orang (57% dari estimasi nasional), dengan 90% di antaranya telah diobati.
Program Terapi Pencegahan TBC (TPT) juga meningkat, menjangkau 143.284 orang hingga September 2025, didukung sistem pemantauan digital di lebih dari 7.000 puskesmas.
Di bidang infrastruktur, pemerintah mempercepat pembangunan dan peningkatan kelas RSUD di wilayah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).
Pemerintah menargetkan pembangunan 66 RSUD, dengan 22 rumah sakit sudah dalam tahap konstruksi. RSUD Tarempa di Kepulauan Anambas menjadi proyek tercepat dengan progres 73%.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menegaskan, “Pemerintah memastikan fasilitas kesehatan di daerah tertinggal dibangun setara dengan wilayah lain.”***
Editor : Ibnu Yunianto