Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Child Grooming: Ciri-Ciri, Bahaya dan Cara Pencegahannya

Rosihan Anwar • Minggu, 18 Januari 2026 | 11:58 WIB
Santy Sastra
Santy Sastra

Oleh: Santy Sastra

(Mindset Motivator & Hypnoterapist)

CHILD GROOMING menjadi salah satu istilah yang semakin sering dibicarakan di masyarakat seiring berkembangnya teknologi digital dan penggunaan internet di kalangan anak-anak dan remaja.

Istilah ini mengacu pada proses manipulatif yang dilakukan pelaku untuk menjalin hubungan dengan anak dengan tujuan mengeksploitasi secara seksual atau merugikan secara psikologis dan emosional.

Meskipun sering terjadi di ranah online atau media sosial, child grooming juga bisa terjadi dalam kehidupan nyata dengan modus yang sering kali sulit dikenali.

Secara sederhana, child grooming adalah strategi manipulatif di mana pelaku berupaya membangun hubungan kedekatan, kepercayaan, dan kontrol atas anak atau remaja untuk tujuan eksploitasi seksual atau bentuk eksploitasi lain di kemudian hari.

Pelaku biasanya menggunakan pendekatan yang tampak ramah atau tulus di awal, sehingga anak tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.

 Proses ini sering terjadi secara bertahap dan sembunyi-sembunyi, membuat keluarga dan korban sendiri sulit menyadari apa yang sebenarnya terjadi sebelum terlambat.

Pelaku grooming dapat memanfaatkan berbagai jalur komunikasi untuk mendekati anak, baik secara offline maupun online.

Media sosial, aplikasi pesan instan, forum game daring, dan platform video adalah ruang yang sering dipakai karena memberikan akses luas tanpa batasan geografis.

Pelaku biasanya memulai dengan membangun hubungan yang terlihat hangat, penuh perhatian, dan tidak mencurigakan.

Setelah kepercayaan diperoleh, pelaku secara perlahan memperkenalkan konten atau percakapan yang tidak sesuai usia, mencoba menciptakan rasa rahasia antara korban dan sendiri, serta mengisolasi korban dari keluarga atau teman dekat.

Proses grooming ini kerap kali dimulai tanpa kekerasan yang jelas di permukaan, sehingga anak tidak sadar dirinya sedang dalam hubungan yang berbahaya.

Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan memberi hadiah atau pujian secara berlebihan untuk membuat anak merasa istimewa dan terikat secara emosional.

Mengenali child grooming bukan hal mudah, terutama karena pelaku sering kali tampak ramah dan perhatian. Namun ada beberapa ciri yang dapat dijadikan tanda awal bahwa sebuah hubungan antara anak dan orang dewasa patut diwaspadai.

Salah satu cirinya adalah jika anak tiba-tiba memiliki hubungan yang sangat dekat dengan orang yang jauh lebih tua tanpa alasan jelas, terutama jika hubungan itu dibangun secara tersembunyi dan anak diminta merahasiakannya dari keluarga.

Orang tua perlu memantau aktivitas digital anak dengan bijak, termasuk memahami aplikasi apa yang digunakan anak, siapa saja yang menjadi kontaknya, serta durasi waktu yang dihabiskan untuk aktivitas daring.

 Ini bukan semata bentuk pengawasan ketat, tetapi bagian dari langkah edukatif untuk memastikan keamanan digital anak. Penggunaan kontrol orang tua pada perangkat dan akun juga dapat membantu memfilter konten yang tidak pantas.

Pelibatan sekolah dan komunitas juga sangat penting. Seminar, workshop, atau edukasi langsung kepada anak dan orang tua mengenai fenomena grooming dapat memperkuat pemahaman masyarakat dan menciptakan lingkungan yang lebih aman secara kolektif. (ss/han)

 

 

 

 

 

Editor : Rosihan Anwar
#santy sastra public speaking