Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Canggih! Dijamin Aman, Terapi Katup Jantung tanpa Operasi untuk Pasien Usia Lanjut, Ini Faktanya

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 10 Maret 2026 | 05:03 WIB

 

CANGGIH: Dokter Spesialis Jantung Intervensi SCVC, dr. I Made Junior Rina Artha,  saat menjelaskan penanganan Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) atau pemasangan katup jantung (9/3/2026)
CANGGIH: Dokter Spesialis Jantung Intervensi SCVC, dr. I Made Junior Rina Artha, saat menjelaskan penanganan Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) atau pemasangan katup jantung (9/3/2026)

DENPASARradarbali.jawapos.com – Sebagai rumah sakit berstandar internasional, Bali International Hospital (BIH), Sanur  terus meningkatkan kualitas layanannya. Salah satunya melalui penanganan pergantian katup jantung tanpa operasi, yakni tindakan

Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) atau pemasangan katup jantung. Biasanya, pasien kardiovaskular sering menghadapi keterbatasan pilihan terapi karena risiko tinggi operasi jantung terbuka, atau terpaksa mencari pengobatan ke luar negeri dengan biaya yang sangat besar.

​Penanganan ini merupakan terobosan medis yang tidak dimiliki oleh semua rumah sakit. 

 Baca Juga: Terobosan Medis di RSUD Tabanan: Kabar Gembira!, Kini Punya Cath Lab, Siap Layani Pasien Jantung dan Stroke

Prosedur TAVI diyakini aman dengan risiko minimal, terutama bagi pasien lanjut usia (lansia) yang menderita penyempitan katup aorta berat (aortic stenosis).

Rerata pasien dapat pulang dalam waktu 48–72 jam, menjadikannya alternatif terapi penting bagi pasien lanjut usia atau pasien dengan risiko operasi tinggi.

​Dokter Spesialis Jantung Intervensi SCVC, dr. I Made Junior Rina Artha, menjelaskan  prosedur TAVI dilakukan tanpa operasi terbuka. Katup jantung buatan dimasukkan melalui pembuluh darah di bagian paha menuju jantung.

​“Prosedur ini dilakukan secara transkateter tanpa pembedahan. Alat dimasukkan lewat pembuluh darah di paha untuk menggantikan katup aorta yang sudah menyempit atau mengerut,” ujarnya Senin (9/3/2026).

​Banyak pasien stenosis aorta berat datang dalam kondisi lanjut dan berisiko tinggi untuk menjalani operasi terbuka.

"Dengan TAVI, kami dapat memberikan alternatif terapi yang lebih aman dan efektif dengan proses pemulihan yang lebih cepat. Kolaborasi tenaga ahli dalam dan luar negeri ini merupakan langkah penting dalam meningkatkan standar layanan jantung intervensi di Indonesia,” tambahnya.

Menurut dr. Junior, penyempitan katup aorta menyebabkan aliran darah dari ventrikel kiri menuju aorta berkurang. Kondisi tersebut membuat pasien sering mengalami keluhan sesak napas dan nyeri dada, terutama saat beraktivitas.

​“Kalau katup sudah mengerut, otomatis aliran darah menurun. Pasien biasanya mengeluh sesak dan nyeri dada,” jelasnya.

​Ia memaparkan, sebelumnya kasus seperti ini umumnya ditangani melalui operasi bedah jantung terbuka. Namun, dengan adanya teknologi TAVI, tindakan dapat dilakukan tanpa operasi sehingga pasien dapat pulih lebih cepat. Prosesnya hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam. "Setelah itu, pasien sudah bisa mobilisasi dalam waktu singkat,” katanya.

​Di Bali, sejauh ini baru dua pasien yang menjalani prosedur TAVI. Keduanya berusia di atas 70 tahun dan mengalami penyempitan katup aorta yang sangat berat. Sebelum tindakan dilakukan, kedua pasien mengeluhkan sesak napas saat melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan atau naik tangga.

​“Saat ini kedua pasien sudah kami lakukan follow-up. Kondisinya membaik dan kami harapkan kualitas hidup mereka juga meningkat,” ujarnya.

​Meski sudah berkembang pesat secara global, tindakan TAVI di Indonesia masih tergolong jarang. Berdasarkan perkiraan, jumlah kasus yang pernah dilakukan di Indonesia masih di bawah 50 tindakan.

"Kasus ini sebelumnya sudah dilakukan di beberapa pusat layanan di Jakarta dan Makassar. Untuk Bali, ini adalah yang pertama,” kata dr. Junior.

Baca Juga: RERAINAN & ALA AYUNING DEWASA, SELASA (10/3/2026)

Lebih menambahkan, salah satu tantangan utama dari prosedur ini adalah biaya yang masih relatif tinggi. Namun, dari sisi kenyamanan dan masa pemulihan, prosedur ini memberikan keuntungan besar bagi pasien.

"Keuntungannya jelas, tanpa pembedahan, tanpa sayatan besar, dan pasien bisa lebih cepat beraktivitas kembali,” jelasnya.

​Sementara itu, CEO Hong Kong Asia Medical Group (HKAMG), Steven Tse, mengatakan Bali dipilih sebagai lokasi pengembangan layanan ini karena memiliki potensi besar sebagai pusat layanan kesehatan regional.

Adanya  Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan di Bali yang membuka peluang bagi rumah sakit internasional untuk berkolaborasi dengan tenaga medis lokal.

"Dukungan rumah sakit dan tim lokal sangat penting agar layanan ini dapat berjalan,” pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
#BIH #Bali Internasional Hospital #kesehatan #tanpa operasi #katup jantung