DENPASAR, Radar Bali.id – Tren kenaikan kasus campak secara nasional mulai membayangi Bali. Meski belum tercatat lonjakan drastis, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya Denpasar melaporkan telah menangani dua kasus pasien dengan gejala klinis sangat kuat mengarah ke campak (almost probable) dalam periode Januari hingga Maret 2026.
Baca Juga: Waspada KLB Campak di Karangasem, Klungkung Siaga dengan Imunisasi Massal
Jumlah ini menyusul catatan tahun lalu di mana terdapat lima kasus konfirmasi di rumah sakit yang sama. Mirisnya, rata-rata pasien yang terjangkit diketahui belum mendapatkan imunisasi.
Baca Juga: Puluhan Anak Terinfeksi Campak di Karangasem, Ini Pemetaan KLB-nya
Mengenal Gejala Khas: Rumus 4C
Dokter Spesialis Anak RSUD Wangaya, dr. I Putu Oka Kresna Jayadi, Sp.A, menjelaskan bahwa campak sering kali sulit dideteksi di awal karena mirip dengan flu biasa. Namun, tenaga medis memiliki patokan klinis yang disebut 4C:
1. Cough (Batuk)
2. Coryza (Pilek)
3. Conjunctivitis (Mata merah dan berair)
4. Koplik Spot (Bintik putih khas sariawan di area mulut)
"Koplik spot ini sangat khas. Biasanya pada hari keempat barulah muncul ruam merah yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Ciri utamanya, ruam muncul saat demam masih tinggi," ujar dr. Oka.
Beda Campak Asli vs "Campak Palsu"
Masyarakat diminta jeli membedakan campak dengan Roseola Infantum atau sering disebut campak palsu.
- Campak Asli: Ruam keluar saat suhu tubuh sedang tinggi-tingginya.
- Roseola: Ruam justru baru muncul saat demam sudah mereda/sembuh.
Bahaya "Immune Amnesia" dan Komplikasi Berat
Campak bukanlah penyakit ringan. Virus ini menular secara airborne (udara) dengan daya tular sangat tinggi: satu orang bisa menginfeksi 12 hingga 18 orang lainnya. Selain risiko pneumonia dan radang otak (meningitis), dr. Oka memperingatkan adanya bahaya jangka panjang yang disebut Immune Amnesia.
"Anak yang terkena campak bisa kehilangan antibodi penyakit lain yang sudah dimiliki sebelumnya. Tubuh jadi 'lupa' cara melawan infeksi lain. Selain itu, ada risiko Subacute Sclerosing Panencephalitis atau penurunan kognitif di masa depan," tegas lulusan Universitas Udayana ini.
Solusi Jitu: Jangan Lewatkan Jadwal Imunisasi
Hingga saat ini, tidak ada obat medis khusus untuk membunuh virus campak; penanganan hanya bersifat pendukung. Oleh karena itu, imunisasi adalah satu-satunya perisai efektif. Sesuai program pemerintah (BIAS), imunisasi MR wajib diberikan dalam tiga tahap:
- Usia 9 bulan
- Usia 18 bulan
- Kelas 1 SD
"Saya belum pernah bertemu pasien dengan imunisasi lengkap yang terkena campak. Kalaupun terkena, gejalanya akan jauh lebih ringan dan risiko komplikasi sangat minim," imbuh dr. Oka.
Bagi orang tua yang memiliki bayi di bawah 9 bulan (yang belum bisa divaksin), dr. Oka menyarankan agar orang dewasa di sekitarnya disiplin menerapkan protokol kesehatan, seperti rajin mencuci tangan dan menghindari kontak dengan bayi jika sedang mengalami batuk atau pilek. [*]
Editor : Hari Puspita