MANGUPURA, RadarBali.id – Ratusan dokter, peneliti, dan praktisi kesehatan dari berbagai belahan dunia berkumpul di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Kuta Selatan, pada Kamis (3/4/2026).
Baca Juga: Pemkab Gelontorkan Rp46,46 Miliar untuk Jaminan Kesehatan, Ini Penyebabnya
Mereka hadir dalam forum ilmiah skala internasional yang diinisiasi oleh Perhimpunan Dokter Seminat Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia (RAJASELINDO).
Pertemuan bergengsi ini berfokus pada pembahasan masa depan rekayasa jaringan, terapi sel, dan kedokteran regeneratif. Lewat forum ini, para ahli saling berbagi ilmu, memperbarui riset, dan memperkuat jaringan internasional demi mematangkan terapi berbasis stem cell (sel punca).
Ketua Panitia Pelaksana, Prof. dr. Ahmad Faried, Sp.BS, Subsp. N-Onk (K), PhD, FICS, DABRM, mengungkapkan bahwa acara ini sangat krusial untuk memperkuat ekosistem riset dan praktik klinis. Apalagi, event kali ini digabung dengan agenda internasional APASTB ke-20, serta pertemuan tahunan PERBAJI ke-9 dan ASPI ke-13.
"Harapannya, diskusi dan kolaborasi ini dapat memperkuat bukti ilmiah sekaligus mendorong inovasi terapi baru bagi berbagai penyakit yang selama ini sulit ditangani," ujar Prof. Ahmad Faried kepada awak media.
Di sisi lain, Ketua Umum REJASELINDO periode 2019–2026, Dr. dr. Bintang Soetjahjo, Sp.OT, Subsp. PL (K), menegaskan pentingnya strategi pentahelix—kerja sama antara akademisi, klinisi, pemerintah, industri, dan media. Ia tidak ingin Indonesia hanya menjadi konsumen teknologi kesehatan dari luar negeri.
"Dengan kerja sama berbagai pihak, kita berharap Indonesia dapat menjadi pusat pengembangan teknologi kesehatan berbasis riset. Dengan demikian, kita benar-benar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri," pungkas Dr. Bintang.[*]
Editor : Hari Puspita