Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Gunung Es Bunuh Diri di Bali,  Saat Luka Jiwa Lebih Perih dari Luka Raga, Bangun Kesehatan Mental, Sehat Raga, Waras Jiwa

M.Ridwan • Sabtu, 4 April 2026 | 21:15 WIB
MENTAL HEALTH: Flayer Talkshow dengan topik Pencegahan Bunuh Diri membangun kesehatan mental agar hidupl lebih berarti.
MENTAL HEALTH: Flayer Talkshow dengan topik Pencegahan Bunuh Diri membangun kesehatan mental agar hidupl lebih berarti.

DENPASAR, radarbali.jawapos.com –Sebuah Talkshow bertajuk pencegahan bunuh diri kembali akan menghadirkan para pakar dan aktivis berkumpul guna membongkar stigma bahwa gangguan mental bukanlah aib, melainkan alarm yang butuh pertolongan segera.

Kali ini Talkshow topik krusial ini akan digelar di Taman bermain Galang Ayu Kids Zone, Denpasar, pada Minggu 12 April 2026.

Isu krusial yang digulirkan bukan tentang politik atau ekonomi, melainkan tentang sesuatu yang sering kali disembunyikan rapat-rapat di bawah karpet rumah tangga.

Berdasar data yang dihimpun hingga tahun 2025, tercatat ada 72 kasus bunuh diri di Bali. Fenomena ini menyimpan sebuah ironi gender yang tajam.

Yang mengejutkan, korban ternyata tak mengenal status sosial atau profesi. Diantaranya ada pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga polisi pun tak luput dari tindakan sia-sia ini.

Dari data ini disebutkan:

·       

 Trauma yang Bersembunyi di Balik Kemapana 

Pemerakarsa kegiatan, Ellen Nainggolan yang juga selaku Founder Komunitas Growth Mindset, mengatakan pihaknya akan terus mengkampanyekan dan mendiskusikan fenomena ini sebagai upaya preventif atau pencegahan kedepannya.

Sebab katanya, "orang mapan" yang kehilangan arah pun ada yang jadi korban bunuh diri.

Menurutnya, banyak individu dengan status sosial tinggi ternyata memiliki kepercayaan diri yang rendah (low self-esteem).

"Masyarakat kita cenderung reaktif. Kalau badan panas, langsung cari dokter. Tapi kalau hati hancur, pikiran kalut karena bully atau perceraian, mereka menganggap itu hal biasa sampai akhirnya merasa tak ada jalan keluar selain mengakhiri hidup," papar Ellen, dalam siaran persnya.

Ini katanya, harus di tracking dan diterapi berdasar kasus atau latar belakang masalah masing-masing. Sebab ada anak yang trauma akibat seringnya dibentak orang tuanya menyebabkan kesehatan mentalnya buruk ketika dewasa.

"Masyarakat kita baru sadar ada masalah saat tubuh sudah sakit secara fisik. Padahal, akarnya sering kali ada di jiwa yang lelah," ungkap Ellen Nainggolan, pemrakarsa kegiatan ini.

Dikatakan, panelis  yang hadir membedah "hantu" mental dari berbagai sudut pandang:

1.   Anna Carmelia Krisvilani (Psikolog): Menyoroti bagaimana trauma masa kecil akibat bentakan orang tua bisa menetap hingga dewasa.

2.   I Gusti Raka Panji Tisna (The Art of Living): Mengajak audiens mengelola stres melalui teknik pernapasan dan ketenangan batin.

3.   Megawati (Tokoh Spiritual): Menekankan pentingnya kedamaian jiwa sebagai benteng menghadapi tekanan hidup.

4.   Ida Bagus Putu Parta (Aktivis Masyarakat): Mendorong peran komunitas untuk lebih peka terhadap tetangga atau teman yang menunjukkan gejala depresi.

Dikatakan, masalahnya ternyata sangat dekat dengan kita. Mulai dari bullying di sekolah, kegagalan asmara, jeratan narkoba, hingga perceraian. Bahkan, mereka yang terlihat mapan secara ekonomi pun sering kali menyimpan rasa percaya diri yang keropos.

Satu pesan kuat yang ditekankan dalam forum ini adalah: Orang yang sakit mental sering kali tidak menyadari bahwa mereka sakit. Mereka dianggap hanya sedang malas, kurang bersyukur, atau kurang iman. Padahal, depresi adalah penyakit medis yang butuh penanganan serius, sama seperti diabetes atau jantung.

Sehat Raga, Waras Jiwa

Tak hanya diskusi serius, acara ini dibalut dengan energi positif melalui Fun Aerobic, Salsation, Zumba, hingga hiburan Dangdut untuk melepaskan hormon endorfin. Tersedia juga pemeriksaan kesehatan gratis sebagai bentuk kepedulian holistik bagi warga Denpasar.

Melawan Depresi dengan Kegembiraan

Talkshow ini tidak berjalan kaku. Untuk membuktikan bahwa gerak tubuh dapat memperbaiki suasana hati, acara diselingi dengan Fun Aerobic, Salsation dan Zumba.

Getaran musik Dangdut yang menggoyang panggung dan pemeriksaan kesehatan gratis menjadi cara panitia merangkul masyarakat agar tidak takut membicarakan kesehatan mental.***

Editor : M.Ridwan
#ayu kids zone #aerobic #kesehatan mental #talkshow #komunitas growth mindset