DENPASAR, radarbali.jawapos.com –Sebuah Talkshow bertajuk pencegahan bunuh diri kembali akan menghadirkan para pakar dan aktivis berkumpul guna membongkar stigma bahwa gangguan mental bukanlah aib, melainkan alarm yang butuh pertolongan segera.
Kali ini Talkshow topik krusial ini akan digelar di Taman bermain Galang Ayu Kids Zone, Denpasar, pada Minggu 12 April 2026.
Isu krusial yang digulirkan bukan tentang politik atau ekonomi, melainkan tentang sesuatu yang sering kali disembunyikan rapat-rapat di bawah karpet rumah tangga.
Berdasar data yang dihimpun hingga tahun 2025, tercatat ada 72 kasus bunuh diri di Bali. Fenomena ini menyimpan sebuah ironi gender yang tajam.
Yang mengejutkan, korban ternyata tak mengenal status sosial atau profesi. Diantaranya ada pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga polisi pun tak luput dari tindakan sia-sia ini.
Dari data ini disebutkan:
- 75% masalah kesehatan mental didominasi oleh perempuan (yang cenderung lebih sadar untuk mencari bantuan).
- 75% pelaku bunuh diri justru adalah laki-laki (yang sering kali merasa harus "kuat" dan memendam luka sendirian).
·
Trauma yang Bersembunyi di Balik Kemapana
Pemerakarsa kegiatan, Ellen Nainggolan yang juga selaku Founder Komunitas Growth Mindset, mengatakan pihaknya akan terus mengkampanyekan dan mendiskusikan fenomena ini sebagai upaya preventif atau pencegahan kedepannya.
Sebab katanya, "orang mapan" yang kehilangan arah pun ada yang jadi korban bunuh diri.
Menurutnya, banyak individu dengan status sosial tinggi ternyata memiliki kepercayaan diri yang rendah (low self-esteem).
"Masyarakat kita cenderung reaktif. Kalau badan panas, langsung cari dokter. Tapi kalau hati hancur, pikiran kalut karena bully atau perceraian, mereka menganggap itu hal biasa sampai akhirnya merasa tak ada jalan keluar selain mengakhiri hidup," papar Ellen, dalam siaran persnya.
Ini katanya, harus di tracking dan diterapi berdasar kasus atau latar belakang masalah masing-masing. Sebab ada anak yang trauma akibat seringnya dibentak orang tuanya menyebabkan kesehatan mentalnya buruk ketika dewasa.
"Masyarakat kita baru sadar ada masalah saat tubuh sudah sakit secara fisik. Padahal, akarnya sering kali ada di jiwa yang lelah," ungkap Ellen Nainggolan, pemrakarsa kegiatan ini.
Dikatakan, panelis yang hadir membedah "hantu" mental dari berbagai sudut pandang:
1. Anna Carmelia Krisvilani (Psikolog): Menyoroti bagaimana trauma masa kecil akibat bentakan orang tua bisa menetap hingga dewasa.
2. I Gusti Raka Panji Tisna (The Art of Living): Mengajak audiens mengelola stres melalui teknik pernapasan dan ketenangan batin.
3. Megawati (Tokoh Spiritual): Menekankan pentingnya kedamaian jiwa sebagai benteng menghadapi tekanan hidup.
4. Ida Bagus Putu Parta (Aktivis Masyarakat): Mendorong peran komunitas untuk lebih peka terhadap tetangga atau teman yang menunjukkan gejala depresi.
Dikatakan, masalahnya ternyata sangat dekat dengan kita. Mulai dari bullying di sekolah, kegagalan asmara, jeratan narkoba, hingga perceraian. Bahkan, mereka yang terlihat mapan secara ekonomi pun sering kali menyimpan rasa percaya diri yang keropos.
Satu pesan kuat yang ditekankan dalam forum ini adalah: Orang yang sakit mental sering kali tidak menyadari bahwa mereka sakit. Mereka dianggap hanya sedang malas, kurang bersyukur, atau kurang iman. Padahal, depresi adalah penyakit medis yang butuh penanganan serius, sama seperti diabetes atau jantung.
Sehat Raga, Waras Jiwa
Tak hanya diskusi serius, acara ini dibalut dengan energi positif melalui Fun Aerobic, Salsation, Zumba, hingga hiburan Dangdut untuk melepaskan hormon endorfin. Tersedia juga pemeriksaan kesehatan gratis sebagai bentuk kepedulian holistik bagi warga Denpasar.
Melawan Depresi dengan Kegembiraan
Talkshow ini tidak berjalan kaku. Untuk membuktikan bahwa gerak tubuh dapat memperbaiki suasana hati, acara diselingi dengan Fun Aerobic, Salsation dan Zumba.
Getaran musik Dangdut yang menggoyang panggung dan pemeriksaan kesehatan gratis menjadi cara panitia merangkul masyarakat agar tidak takut membicarakan kesehatan mental.***
Editor : M.Ridwan