RADAR BALI - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi temuan satu kasus positif hantavirus dan lima kasus suspek di atas kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di Samudra Atlantik pada Minggu, 4 Mei 2026.
Wabah mematikan ini telah mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, sementara satu pasien lainnya dalam kondisi kritis di rumah sakit Afrika Selatan.
Kematian pertama menimpa seorang pria berusia 70 tahun yang mengembuskan napas terakhir di atas kapal sebelum jenazahnya dibawa ke Santa Elena.
Istri korban yang berusia 69 tahun juga jatuh sakit dan meninggal di rumah sakit Johannesburg setelah sempat pingsan di bandara saat proses evakuasi medis.
Satu korban lainnya diidentifikasi sebagai warga negara Inggris berusia 69 tahun yang saat ini masih menjalani perawatan intensif di Johannesburg setelah menunjukkan gejala di dekat Pulau Ascension.
Kapal yang dioperasikan perusahaan Belanda tersebut mengangkut sekitar 150 penumpang dan 70 kru dalam perjalanan dari Ushuaia, Argentina, menuju Tanjung Verde.
Pihak WHO mengetahui dan mendukung acara kesehatan masyarakat yang melibatkan kapal pesiar tersebut. Pihak berwenang kini melakukan investigasi epidemiologi dan pengurutan genetik virus untuk melacak asal penularan.
Penanganan medis dan isolasi terus diberikan kepada penumpang serta kru yang menunjukkan gejala serupa.
Penyelidikan terperinci sedang dilakukan, termasuk tes laboratorium tambahan dan penyelidikan epidemiologi.
Perawatan medis dan dukungan diberikan kepada penumpang dan awak, serta pengurutan virus yang sedang berjalan.
Kejadian ini kembali menarik perhatian publik pada kasus Betsy Arakawa, istri aktor Gene Hackman, yang meninggal akibat Sindrom Paru Hantavirus (HPS) pada Februari tahun lalu.
Hubungan antara wabah saat ini dan kasus masa lalu diperkuat oleh temuan medis mengenai cepatnya perkembangan penyakit ini pada manusia.
Menurut Dr. Heather Jarrell selaku peneliti medis utama New Mexico, fase pulmonal penyakit ini menyebabkan penumpukan cairan di sekitar paru-paru.
Hal ini membuat kondisi pasien memburuk dalam waktu yang sangat singkat tanpa adanya penanganan medis segera.
Setelah melewati fase awal, pasien berisiko kehilangan nyawa dalam waktu kurang dari dua hari.
Tanpa intervensi klinis yang tepat, peluang bertahan hidup penderita sangat kecil karena sifat virus yang menyerang sistem pernapasan secara mendadak.
Berdasarkan publikasi ilmiah dan data Kementerian Kesehatan mengenai infeksi hantavirus, penyakit ini merupakan zoonosis yang dibawa oleh hewan pengerat (rodensia) sebagai reservoir alami melalui urin, air liur, dan kotoran.
Penularan utama terjadi melalui penghirupan aerosol yang mengandung partikel virus di area tertutup atau lingkungan pedesaan.
Meskipun penularan antarmanusia dianggap jarang terjadi, bukti dokumen menunjukkan potensi bahaya dari cairan tubuh manusia selama periode wabah berlangsung.
Infeksi ini biasanya berkaitan erat dengan paparan lingkungan terhadap kotoran hewan pengerat yang terinfeksi.
Risiko penyebaran tetap menjadi perhatian serius karena penyakit ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat yang memerlukan pengawasan ketat.
Belum ada obat spesifik untuk hantavirus, namun deteksi dini terbukti meningkatkan peluang kelangsungan hidup pasien secara signifikan.
Di Indonesia, keberadaan hantavirus pernah dilaporkan dan diidentifikasi, seperti penemuan Hanta strain Serang di Banten serta temuan pada tikus di Kepulauan Seribu.
Virus ini memiliki dua tipe penyakit utama pada manusia, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
Infeksi hantavirus termasuk dalam kelompok risiko tinggi, yang dalam penanganan laboratoriumnya memerlukan fasilitas biosafety tingkat tinggi.
Penularan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh keberadaan rodensia, serta perubahan lingkungan dan iklim yang memungkinkan tikus bermigrasi ke permukiman manusia.
Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit zoonosis ini, langkah-langkah pengendalian yang komprehensif perlu dilakukan.
Hal ini mencakup perbaikan sanitasi lingkungan, pengendalian populasi tikus, dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Pemerintah, melalui kementerian terkait dan lembaga penelitian, didorong untuk meningkatkan pengawasan serta penelitian mengenai spesies reservoir di alam liar untuk mencegah potensi wabah di masa depan.***
Editor : Ibnu Yunianto