Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menangis Itu Tidak Tabu: Saat Air Mata Jadi Bahasa Hati

Rosihan Anwar • Senin, 11 Mei 2026 | 18:35 WIB

 

Santy Sastra.
Santy Sastra.

 

Oleh: Santy Sastra

(Mindset Motivator & Hypnoterapist)

MENANGIS sering dianggap tanda lemah. Padahal, air mata adalah cara tubuh bicara saat kata-kata tak cukup lagi. Laki-laki, perempuan, anak, atau dewasa semua boleh menangis.

Sejak kecil kita diajari “jangan cengeng”. Akibatnya, banyak orang menahan tangis sampai dada sesak. Padahal menahan emosi justru bikin stres numpuk dan tubuh ikut sakit.

Secara ilmiah, menangis punya manfaat. Air mata emosional mengandung hormon stres seperti kortisol. Begitu keluar, tubuh terasa lebih ringan, napas lebih lega, dan kepala lebih jernih.

Menangis juga cara otak melindungi diri. Saat sedih, kecewa, atau terlalu bahagia, air mata membantu menstabilkan perasaan. Itu sebabnya habis menangis kita sering merasa tenang.

Di banyak budaya, menangis untuk laki-laki masih tabu. Stigma “cowok kuat nggak boleh nangis” membuat banyak pria memendam luka. Padahal kuat bukan berarti tidak pernah rapuh.

Perempuan pun kadang dicap drama saat menangis. Padahal menangis adalah bentuk kejujuran emosi. Lebih sehat mengungkapkan daripada pura-pura tegar terus-menerus.

Anak yang dilarang menangis akan belajar menyembunyikan perasaan. Saat dewasa, mereka sulit mengenali emosi sendiri dan cenderung melampiaskan lewat marah atau diam.

Menangis tidak sama dengan menyerah. Banyak tokoh besar justru menangis sebelum bangkit. Air mata jadi titik jeda, tempat mengumpulkan tenaga untuk melangkah lagi.

Kita perlu ruang aman untuk menangis. Di rumah, di kamar, bersama sahabat, atau saat berdoa. Tidak perlu penonton, cukup diri sendiri yang menerima.

Jika melihat teman menangis, jangan langsung disuruh berhenti. Cukup temani, dengarkan, atau diam saja. Kadang kehadiran lebih menyembuhkan daripada nasihat.

Menangis juga bisa jadi tanda empati. Ikut terharu saat lihat orang lain bahagia, atau ikut sedih saat menonton film. Itu artinya hati kita masih peka.

Tentu ada bedanya menangis sehat dan menangis terus-menerus tanpa sebab. Jika air mata datang setiap hari disertai putus asa, ada baiknya bicara dengan ahli atau orang terpercaya.

Ajarkan pada anak bahwa menangis itu wajar. Ganti kalimat “jangan nangis” dengan “nggak apa-apa, kamu sedih ya?”. Anak jadi tahu perasaannya diakui.

Masyarakat yang sehat memberi tempat bagi air mata. Karena dari sana lahir manusia yang jujur pada diri sendiri, tidak keras kepala menahan luka.

Jadi, kalau hari ini ingin menangis, menangislah. Bukan karena lemah, tapi karena Anda manusia. Dan manusia yang berani merasa adalah manusia yang utuh. (ss/han)

 

 

 

 

Editor : Rosihan Anwar
#santy sastra hypnoterapi