"Kalau peternak membutuhkan disinfektan untuk biosekuriti, hubungi dinas pertanian kabupaten atau provinsi, karena ASF belum ada vaksinnya"
WAYAN SUNADA
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Provinsi Bali
DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Peternak babi sedang waswas karena ancaman virus African Swine Fever (ASF) setelah terkonfirmasi dua ekor babi positif terjangkit virus ganas itu di Temesi, Gianyar.
Kendati ditemukan dua ekor babi yang positif ASF, Pemerintah Provinsi Bali tidak memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus.
"Yang di Temesi, dari 6 sampel yang diambil, 2 positif, sisanya negatif dan masih proses," ujar Kadis Pertanian dan Ketahanan Provinsi Bali, Wayan Sunada, Senin (25/5/2026).
Sunada mengatakan, belum ada vaksin untuk ASF sehingga peternak diminta waspada dengan menjaga kesehatan hewan dan kebersihan kandang.
Penjagaan dilakukan dengan rajin menyemprotkan disinfektan dan melakukan biosekuriti. Sebab, karakteristik virus ini dapat menempel pada barang atau manusia sehingga menular ke babi.
Sebagai upaya pencegahan penyebaran virus itu, Dinas Pertanian dan Peternakan sudah membagi-bagikan disinfektan kepada peternak.
"Kalau peternak membutuhkan disinfektan untuk biosekuriti, hubungi dinas pertanian kabupaten atau provinsi, karena ASF belum ada vaksinnya," ujarnya.
Seperti yang telah diketahui, kasus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika di Bali tengah mengkhawatirkan peternak dan masyarakat. Sejumlah ternak yang mati diduga karena terserang virus tersebut.
"Tidak perlu lockdown, hanya dua. Asalkan peternak rutin melakukan penyemprotan disinfektan dan biosekuriti," jelasnya.
Selain di Temesi, Distan Bali juga mengambil sampel di Payangan untuk diuji di laboratorium. Masyarakat dan peternak diimbau agar tetap tenang.
"Semoga yang di Payangan hasilnya negatif," jelasnya.
Selain pemeriksaan lapangan, petugas juga terus memberikan edukasi kepada peternak terkait pentingnya penerapan biosekuriti secara ketat di kandang.
Peternak diimbau rutin melakukan pembersihan kandang, penyemprotan disinfektan, membatasi keluar masuk orang ke area kandang, serta memastikan pakan yang diberikan berkualitas dan tidak berasal dari limbah makanan yang berisiko membawa virus.
Disarankan juga untuk mengisolasi ternak babi yang baru dibeli sebelum dicampur dengan ternak lainnya.
"Langkah karantina sementara tersebut penting dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan ternak dan mencegah potensi penularan penyakit ke seluruh populasi dalam kandang," terangnya.
Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali bersama pemerintah kabupaten/kota juga terus memperkuat pengawasan lalu lintas ternak, pemeriksaan kesehatan hewan, serta edukasi kepada masyarakat guna mencegah penyebaran ASF yang lebih luas.
"ASF memang sudah menjadi penyakit endemis di Bali, sehingga yang paling penting saat ini adalah meningkatkan kewaspadaan dan disiplin dalam penerapan biosekuriti," tandasnya.***
Editor : M.Ridwan