Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Masih Ancam Ibu Hamil, RSUP Ngoerah Perkuat Edukasi Tentang Preeclampsia

Rosihan Anwar • Jumat, 29 Mei 2026 | 20:22 WIB
Kepala Instalasi KIA RSUP Prof Ngoerah yang juga Ketua POGI Bali, dr Made Bagus Dwi Aryana, SpOG Subsp Obginsos.
Kepala Instalasi KIA RSUP Prof Ngoerah yang juga Ketua POGI Bali, dr Made Bagus Dwi Aryana, SpOG Subsp Obginsos.

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Melalui peringatan World Preeclampsia Day 2026, RSUP Prof IGNG Ngoerah Denpasar mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap preeclampsia.

Tahun ini, RSUP Prof Ngoerah menggeal World Preeclampsia Day di lapangan depan Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Jumat (29/5/2026).

Penyakit yang identik dengan tekanan darah tinggi pada ibu hamil itu dinilai masih menjadi salah satu penyebab utama kegawatan hingga kematian ibu dan bayi.

Kegiatan bertema “Kenali, Waspadai, Selamatkan Ibu dan Bayinya” tersebut diisi senam preeclampsia, penyuluhan kesehatan, podcast edukasi, bakti sosial dan skrining preeclampsia, hingga kunjungan serta pemberian bingkisan kepada pasien. 

Kegiatan Peringatan World Preeclampcia Day di depan Gedung KIA ini disambut langsung oleh Direktur Utama, Dr. I Gusti Ngurah Ketut Sukadarma, S.Kp , M.Kes. 

Kepala Instalasi KIA RSUP Prof Ngoerah sekaligus Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Bali, dr Made Bagus Dwi Aryana, SpOG Subsp Obginsos, mengatakan preeclampsia merupakan kondisi tekanan darah tinggi pada ibu hamil setelah usia kehamilan di atas 20 minggu.

“Kalau tekanan darah ibu hamil sudah di atas 140 per 90, itu harus diwaspadai. Risiko terberatnya bisa menyebabkan kematian ibu maupun bayi,” ujarnya.

Menurutnya, tekanan darah tinggi menyebabkan aliran darah dan oksigen menuju janin terganggu akibat penyempitan pembuluh darah.

Kondisi tersebut dapat memicu bayi kekurangan oksigen, lahir prematur, hingga kematian janin dalam kandungan.

Di sisi lain, ibu hamil juga berisiko mengalami gangguan organ seperti ginjal dan paru-paru akibat penumpukan cairan.

Dalam kondisi berat, preeclampsia bahkan dapat berkembang menjadi eklamsia atau kejang yang membahayakan nyawa ibu.

“Preeclampsia itu seperti halilintar. Kadang datang tiba-tiba tanpa gejala yang jelas sebelumnya,” kata dr Aryana.

Ia menjelaskan terdapat sejumlah faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya preeclampsia, di antaranya kehamilan pada usia terlalu muda atau terlalu tua, obesitas, riwayat hipertensi, penyakit ginjal, hingga riwayat preeclampsia pada kehamilan sebelumnya.

Karena itu, dr Aryana menekankan pentingnya kehamilan pada usia reproduksi sehat, yakni 20 hingga 35 tahun, serta pemeriksaan kehamilan rutin agar tekanan darah ibu dapat dipantau sejak dini.

“Begitu ibu hamil kontrol, pemeriksaan tekanan darah wajib dilakukan. Kalau terdeteksi lebih awal, risikonya bisa ditekan dan penanganan lebih cepat dilakukan,” jelasnya.

Selain pemeriksaan rutin, ibu hamil juga diimbau menjaga pola makan bergizi seimbang, menghindari konsumsi berlebihan makanan tinggi natrium, serta tidak sembarangan mengonsumsi obat-obatan tanpa pengawasan tenaga kesehatan.

RSUP Prof Ngoerah menyebut peringatan World Preeclampsia Day menjadi momentum mengingatkan tenaga kesehatan dan masyarakat bahwa preeclampsia merupakan kondisi serius yang dapat mengancam keselamatan ibu maupun bayi apabila terlambat ditangani.

Editor : Rosihan Anwar
#World Preeclampsia Day #RSUP Prof IGNG Ngoerah