Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kecanduan Judi Online adalah Gangguan Otak, Kini Bisa Diterapi Magnetik Exo-TMS di Denpasar

Marsellus Pampur • Minggu, 7 Juni 2026 | 21:26 WIB
PERANTI KHUSUS : Exo-TMS (Exomind Transcranial Magnetic Stimulation), di klinik Sudirman Medical Centre (SMC) Denpasar. (Marsellus Pampur)
PERANTI KHUSUS : Exo-TMS (Exomind Transcranial Magnetic Stimulation), di klinik Sudirman Medical Centre (SMC) Denpasar. (Marsellus Pampur)

DENPASAR, Radar Bali.id - Kecanduan judi online (judol) ternyata bukan sekadar masalah kebiasaan buruk, melainkan kategori gangguan otak kronis yang tidak bisa sembuh dengan sendirinya.

Hal ini ditegaskan oleh dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, SpKJ (K), seorang Konsultan Psikiater saat peluncuran layanan Exo-TMS (Exomind Transcranial Magnetic Stimulation) di klinik Sudirman Medical Centre (SMC) Denpasar pada Minggu, 7 Juni 2026.

Baca Juga: Update! 35 WNA India Perkara Kasus Judol di Bali Dilimpahkan ke Kejaksaan, Ini Jerat Pasalnya

Dokter Rai memaparkan bahwa menangani pasien yang sudah kecanduan judi online memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, bahkan melebihi penanganan pasien kecanduan narkoba.

Baca Juga: Kuras Brankas Alfamart, Eks Karyawan Gunakan Uang untuk Beli Ponsel dan Main Judol

”Itu tidak bisa sembuh sendiri. Saya sebagai klinisi melihat ini lebih sulit melakukan terapi kecanduan judi daripada kecanduan narkoba. Kalau kecanduan narkoba kan zatnya ilegal. Nah, kecanduan judi online ini tidak bisa kita menghalangi orang bermain HP," ungkapnya.

Baca Juga: Astaga! Gegara Kalah Main Judol Rp50 Juta, Sopir Asal Lombok Nekat Akhiri Hidup di Nusa Penida

Namun, harapan baru kini muncul lewat teknologi neuromodulasi modern bernama Exo-TMS. Alat ini dirancang khusus untuk mendukung kesehatan otak, mengembalikan keseimbangan mental, serta meningkatkan kualitas hidup pasien melalui terapi khusus yang non-invasif (tanpa pembedahan).

Lebih lanjut, dr. Rai menjelaskan bahwa teknologi ini menggunakan stimulasi magnetik terarah untuk mengoptimalkan kembali aktivitas jaringan otak tertentu.

 Fokus utamanya adalah area yang mengatur fokus, regulasi emosi, pengambilan keputusan, serta ketahanan terhadap stres.

Salah satu target utama dari stimulasi alat ini adalah Dorsolateral Prefrontal Cortex (DLPFC), yang populer dijuluki sebagai "CEO of the Brain". Area ini memegang peran krusial dalam fungsi eksekutif dan pengendalian emosi.

Mengingat para pecandu judol kerap mengalami emosi yang tidak stabil hingga stres berat, metode terapi ini efektif menekan dan mengurangi dorongan atau niat untuk berjudi kembali.

”Ada meta-analisisnya, ternyata ketika digunakan dengan protokol tertentu bisa mengurangi, bahkan membuat pasien tidak kangen lagi untuk main judol. Terapi ini perlu dilakukan sebanyak 20 hingga 30 kali," jelasnya.

Sejak teknologi mutakhir ini diluncurkan, klinik SMC mencatat sudah ada delapan pasien yang menjalani terapi. Menariknya, dua di antara pasien tersebut merupakan pelaku judi online yang memiliki kesadaran tinggi dan tekad kuat untuk bertobat serta berhenti total.[*]

Editor : Hari Puspita
#denpasar #kesehatan #ponsel #alkes #judol