TABANAN, Radar Bali .id– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan mengantisipasi potensi penyebaran penyakit Hantavirus di lingkungan warga binaan.
Baca Juga: Hantavirus Mengintai Lewat Tikus, Tak Perlu Panik Berlebihan, Tahun 1984 Sudah Pernah Terjadi
Mengingat kondisi blok hunian yang padat, kebersihan lingkungan menjadi harga mati agar tidak bertransformasi menjadi sarang tikus, yang merupakan vektor utama penularan virus mematikan tersebut.
Langkah preventif ini ditegaskan oleh Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, 48, saat menggandeng Puskesmas III Tabanan untuk menggelar edukasi dan sosialisasi masif kepada ratusan warga binaan pada hari Senin, 8 Juni 2026.
Kegiatan yang digelar pagi hari tersebut bertujuan meningkatkan kewaspadaan dini terhadap merebaknya kasus Hantavirus di pasaran.
Prawira menginstruksikan agar seluruh warga binaan memahami karakteristik penyakit, faktor risiko, serta gejala klinis awal Hantavirus. Menurutnya, edukasi komprehensif sangat krusial bagi para narapidana yang sehari-hari hidup berdampingan di dalam jeruji besi.
"Kami berharap seluruh petugas dan warga binaan dapat meningkatkan kewaspadaan sekaligus berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan. Khusus kamar tempat tidur mereka masing-masing agar terhindar dari risiko penyebaran penyakit,” tegas Prawira pada Senin, 8 Juni 2026 siang.
Sementara itu, petugas medis dari Puskesmas Tabanan III, Ni Putu Darmayanti, 37, memaparkan bahwa hingga saat ini kasus Hantavirus memang belum ditemukan alias nihil di Kabupaten Tabanan. Kendati demikian, risiko penyebaran tetap mengintai, salah satunya di dalam lingkungan Lapas. Kondisi kamar hunian yang penuh sesak (overkapasitas) ditambah menumpuknya barang-barang pribadi warga binaan menjadi ruang strategis bagi perkembangbiakan tikus.
”Nah, apabila warga binaan abai terhadap kebersihan dan membiarkan barang-barang di dalam lapas kotor, maka tikus akan sangat cepat berkembang biak,” kata Darmayanti.
Ia menambahkan, kunci utama memutus rantai penularan Hantavirus adalah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten, mengendalikan populasi tikus, serta mengelola sampah domestik dengan benar. Karakteristik Hantavirus sendiri berbeda dengan Covid-19. Virus ini ditularkan melalui paparan urine, feses, atau air liur tikus yang mengering lalu terhirup oleh manusia di ruangan berudara terbatas.
"Kebiasaan sederhana yang konsisten memiliki peran besar. Kami meminta warga binaan rutin membersihkan blok hunian dan membasmi atau menghilangkan total sarang tikus di area lapas," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita