Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Krisis Tenaga Spesialis, RSUD Gema Santi Nusa Penida Buka Rekrutmen Dokter Non-ASN dan Iming-imingi Insentif Rp 30 Juta

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Kamis, 11 Juni 2026 | 08:26 WIB
PERLU TENAGA DOKTER SPESIALIS : RSUD Gema Santi Nusa Penida. (ist)
PERLU TENAGA DOKTER SPESIALIS : RSUD Gema Santi Nusa Penida. (ist)

NUSA PENIDA, Radar Bali.id - Upaya peningkatan mutu layanan kesehatan di wilayah kepulauan terus dipacu. Pihak UPTD RSUD Gema Santi Nusa Penida saat ini tengah membuka rekrutmen lowongan kerja untuk posisi dokter spesialis Non-Aparatur Sipil Negara (ASN).

Baca Juga: LPDP Tambah Kuota Beasiswa 2026, Fokus STEM dan Dokter Spesialis

Kali ini, ada dua formasi spesialis krusial yang diburu, yakni dokter spesialis anestesi dan dokter spesialis mikrobiologi klinik.

Baca Juga: Duh, Krisis Dokter Spesialis di Nusa Penida: Pasien Terpaksa Terus Dirujuk ke Daratan Bali

Direktur RSUD Gema Santi Nusa Penida dr. I Ketut Rai Sutapa membenarkan adanya langkah rekrutmen terbuka untuk dua dokter spesialis tersebut saat dikonfirmasi pada Rabu, 10/6/2026.

dr. Rai Sutapa mengungkapkan, kekosongan posisi dokter spesialis anestesi di RSUD Gema Santi sejatinya sudah berlangsung cukup lama, yakni sejak pertengahan tahun 2025 lalu.

Kondisi ini terjadi lantaran rumah sakit plat merah di Nusa Penida tersebut tidak masuk dalam daftar lokasi Program Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk periode tersebut.

"Sebelumnya kami memang mendapatkan pasokan tenaga medis dari PGDS Kemenkes. Namun untuk saat ini, guna mengisi kekosongan, layanan yang membutuhkan dokter spesialis anestesi terpaksa dibantu oleh residen mandiri anestesi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud) RS Ngoerah," terangnya.

Sementara itu, untuk formasi spesialis mikrobiologi klinik, dr. Rai Sutapa memaparkan bahwa selama ini urusan medis tersebut dirangkap oleh spesialis patologi klinik.

Mengingat target jangka panjang rumah sakit yang dituntut terus berkembang, perekrutan spesialis mikrobiologi klinik dinilai sudah sangat mendesak. Apalagi, tahun depan RSUD Gema Santi membidik ekspansi dengan menambah jajaran spesialis baru lainnya.

"Layanan rumah sakit di kepulauan ini harus terus berkembang. Ke depan, kami merencanakan untuk menambah spesialis lagi, seperti spesialis jantung, paru, ortopedi, dan spesialis lainnya," bebernya rinci.

Pihak manajemen menaruh harapan besar agar rekrutmen mandiri ini bisa memikat para dokter spesialis, sehingga akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di sekeping pulau terpisah Nusa Penida kian maksimal dan setara dengan daratan Bali.

Demi mendongkrak minat para dokter spesialis agar mau mengabdikan diri di RSUD Gema Santi, dr. Rai Sutapa meniupkan angin segar berupa kucuran tunjangan khusus yang bersumber langsung dari Kemenkes.

"Mulai tahun 2026 ini, dokter spesialis yang bertugas di RS Gema Santi berhak mendapatkan tunjangan khusus dari Kemenkes. Semoga fasilitas ini membuat para dokter spesialis lebih tertarik untuk melamar," tandasnya.

Untuk diketahui, komitmen pemerintah dalam memeratakan fasilitas medis di wilayah terluar memang tidak main-main. Pemerintah pusat menggelontorkan tunjangan khusus tambahan sebesar Rp 30 juta lebih per bulan bagi dokter spesialis, sub-spesialis, hingga dokter gigi yang sudi bertugas di Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK).

Kebijakan kesejahteraan bagi tenaga medis di wilayah kepulauan ini telah diatur secara resmi melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2025.[*]

 

Editor : Hari Puspita
#insentif #dokter spesialis #nusa penida #non asn #tenaga medis