DENPASAR, Radar Bali.id – Penyakit stroke masih menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di Indonesia. Data menunjukkan stroke merupakan penyebab utama kecacatan dan menyumbang 18,5 persen dari total kematian di tanah air.
Dalam penanganan stroke, terdapat golden period sekitar 4,5 jam sejak timbulnya gejala untuk memberikan terapi pada pasien stroke iskemik yang memenuhi indikasi. Karena itu, setiap menit memiliki arti yang sangat penting.
Semakin cepat pasien mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat, semakin besar peluang untuk mengurangi risiko kecacatan serta meningkatkan kualitas hidup. Hal ini membutuhkan rumah sakit dengan sistem penanganan stroke yang cepat, terintegrasi, dan didukung koordinasi multidisiplin.
Di Bali, Siloam Hospitals Bali menjadi salah satu rumah sakit dengan sistem pelayanan yang telah dirancang untuk mempercepat proses diagnosis, pengambilan keputusan medis, hingga pemberian terapi sesuai kondisi masing-masing pasien stroke.
Siloam Hospitals Bali juga memperkuat komitmennya sebagai Stroke Ready Hospital melalui perolehan Clinical Care Program Certification (CCPC) for Stroke dari Joint Commission International (JCI).
Hospital Director Siloam Hospitals Bali, dr. Ni Gusti Ayu Putri Mayuni mengatakan, sertifikasi ini merupakan validasi terhadap sistem pelayanan yang selama ini dibangun untuk memberikan manfaat nyata bagi pasien. Sertifikasi internasional ini diberikan kepada rumah sakit yang dinilai memiliki sistem penanganan stroke komprehensif, mulai dari layanan kegawatdaruratan, diagnosis cepat, tindakan medis, hingga rehabilitasi pasien.
Dengan demikian, pasien terjamin akan ditangani melalui sistem pelayanan yang telah dirancang untuk mempercepat proses diagnosis, pengambilan keputusan medis, hingga pemberian terapi. Seluruh proses tersebut dijalankan berdasarkan pedoman klinis berbasis bukti (evidence-based practice) serta dievaluasi secara berkelanjutan untuk memastikan kualitas pelayanan dan hasil klinis tetap terjaga.
”Yang terpenting adalah bagaimana standar tersebut diterjemahkan menjadi pelayanan yang cepat, aman, terkoordinasi, dan memberikan peluang pemulihan yang lebih baik bagi setiap pasien. Kami akan terus melakukan evaluasi dan peningkatan berkelanjutan agar masyarakat dapat memperoleh layanan stroke berkualitas tinggi tanpa harus meninggalkan Indonesia," terangnya, Jumat (17/7/2026).
Dengan kelengkapan fasilitas diagnostik, layanan pencitraan, laboratorium, serta sistem koordinasi klinis, memungkinkan pasien memperoleh penanganan dalam waktu yang optimal. Melalui pendekatan tersebut, tercatat 44 kasus sejak bulan Agustus 2025 sampai Januari 2026 dengan persebaran 9 persen (4 pasien) diberikan penanganan trombolisis intravena dan 2,3 persen (1 pasien) dilakukan penanganan trombektomi mekanik.
”Dari data tersebut, 93 persen pasien dinyatakan membaik. Hasil ini menunjukkan bagaimana sistem pelayanan yang cepat, terkoordinasi, dan berbasis bukti dapat meningkatkan peluang pemulihan sekaligus mengurangi risiko kecacatan," tandasnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali