Kasus DBD di Bali Menurun Drastis hingga 82%, Balita Jadi Korban Nyamuk Poleng, Ini Warning Dinkes

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:13 WIB
BERBAHAYA: Nyoamuk poleng yang akibatkan Demam Berdarah masih memakan korban jiwa di Bali. (ilustrasi/radarbali.id)
BERBAHAYA: Nyoamuk poleng yang akibatkan Demam Berdarah masih memakan korban jiwa di Bali. (ilustrasi/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada periode Januari hingga Juli 2026 menurun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

​Berdasarkan data Dinkes Bali, kasus DBD sejak Januari hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 1.588 kasus. Jumlah kasus tahun ini turun drastis dari periode yang sama pada 2025 yang mencapai 9.116 kasus.

​Sayangnya, kendati kasus menurun, masih ada pasien yang kehilangan nyawa karena DBD. Meskipun demikian, angka kematian (fatality rate) akibat DBD juga mengalami penurunan, dari 13 kasus sepanjang tahun 2025 menjadi 2 kasus hingga pertengahan tahun ini.

​Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti menjelaskan bahwa penurunan kasus dipengaruhi oleh transisi cuaca menuju musim kemarau serta berbagai langkah strategis pencegahan.

​"Jadi sampai di Juli itu kalau kita lihat memang ada penurunan kasus. Kalau kita lihat memang sekarang itu musim panas dibanding dengan Januari-Februari, jadi memang signifikan," ujar dr. Raka Susanti pada Selasa ditemui kemarin (11/8/2026).

Baca Juga: Waspada! Kasus DBD di Buleleng Meningkat, Dinkes Temukan Banyak Titik Jentik Nyamuk

​Selain faktor iklim, penurunan kasus ini karena optimalnya dalam  menjalani gerakan 3M Plus. Ditambah  keterlibatan pihak swasta melalui bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk melatih serta mengerahkan petugas Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di kawasan rawan seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar.

Dinkes Bali juga memanfaatkan teknologi aplikasi DB Klim yang bekerja sama dengan BMKG selama dua tahun terakhir untuk memetakan wilayah berpotensi rawan DBD.

​Terkait dua kasus kematian yang tercatat hingga Juni 2026, korban berasal dari Kabupaten Buleleng dan Kota Denpasar. Korban di Buleleng merupakan seorang balita yang meninggal pada April ketika puncak musim hujan, sedangkan korban di Denpasar merupakan usia dewasa muda di bawah 30 tahun pada bulan Maret. Kedua pasien diketahui memiliki kondisi penyerta (komorbid).

​Raka Susanti mengatakan, balita rentan meninggal dunia karena di usia yang masih kecil, mereka belum bisa menyampaikan keluhan saat mengalami demam.

Kondisi ini sering kali baru diketahui oleh para orang tua saat demam sudah tinggi. Oleh karena itu, orang tua diharapkan lebih waspada terhadap gejala demam pada anak atau balita yang kerap sulit terdeteksi secara dini.

​"Anak-anak atau balita itu biasanya kan tidak bisa merasakan (atau mengeluhkan) demam tinggi. Orang tuanya baru tahu setelah pemeriksaan intensif. Jadi kalau sudah demam, harapannya tentu lebih baik langsung dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan," pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
gigitan nyamuk poleng demam berdarah dengue dbd Dinkes Provinsi Bali