DENPASAR, radarbali.jawapos.com - KEAMANAN, mutu, dan khasiat obat serta keamanan pangan menjadi bagian penting dalam perlindungan kesehatan masyarakat.
Di tengah meningkatnya ragam produk Sediaan Farmasi dan Pangan Olahan yang beredar, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan terhadap produk yang telah sampai di tangan konsumen.
Pengawasan juga perlu memastikan bahwa produk tersebut dihasilkan melalui proses produksi yang memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku.
Untuk itu, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Denpasar secara berkesinambungan melaksanakan pengawasan sarana produksi Sediaan Farmasi dan Pangan Olahan sebagai bagian dari pengawasan post market serta penilaian penerapan Cara Produksi yang Baik.
Melalui kegiatan pemeriksaan sarana produksi, petugas BBPOM di Denpasar melakukan penilaian secara menyeluruh terhadap penerapan sistem mutu dan keamanan produk.
Pemeriksaan tidak hanya melihat kondisi fisik sarana, tetapi juga mencakup aspek bangunan dan fasilitas, peralatan, higiene dan sanitasi, bahan baku, bahan pengemas, proses produksi, pengawasan mutu, penyimpanan, dokumentasi, hingga kompetensi personel.
Setiap aspek tersebut memiliki peran penting dalam memastikan produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Pada sarana produksi Sediaan Farmasi, pengawasan diarahkan untuk memastikan penerapan prinsip Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan ketentuan Cara Produksi yang Baik sesuai dengan jenis produk yang dihasilkan.
Sementara itu, pada sarana produksi Pangan Olahan, pemeriksaan mencakup penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), termasuk pengendalian terhadap potensi bahaya yang dapat memengaruhi keamanan pangan.
Konsistensi penerapan prinsip-prinsip tersebut menjadi salah satu kunci untuk mencegah terjadinya ketidaksesuaian yang berpotensi menurunkan mutu produk atau membahayakan konsumen.
Pengawasan post market juga menjadi bagian penting dalam memastikan kepatuhan pelaku usaha setelah produk memperoleh izin dan beredar di masyarakat.
Pemeriksaan sarana dapat dilakukan secara rutin maupun berdasarkan prioritas risiko, antara lain dengan mempertimbangkan hasil pengawasan sebelumnya, hasil pengujian laboratorium, informasi dari masyarakat, pengaduan, maupun indikasi adanya ketidaksesuaian.
Pendekatan berbasis risiko memungkinkan kegiatan pengawasan dilakukan secara lebih efektif dan proporsional, dengan memberikan perhatian lebih besar terhadap sarana dan produk yang memiliki potensi risiko lebih tinggi terhadap kesehatan masyarakat.
Hasil pemeriksaan selanjutnya menjadi dasar dalam menentukan tindak lanjut pengawasan. Apabila ditemukan ketidaksesuaian, pelaku usaha diarahkan untuk melakukan perbaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tindakan korektif dan pencegahan menjadi bagian penting agar ketidaksesuaian yang sama tidak berulang. Dengan demikian, pengawasan tidak hanya berorientasi pada penemuan pelanggaran, tetapi juga mendorong peningkatan kepatuhan dan perbaikan berkelanjutan pada sistem produksi.
Pelaku usaha diharapkan tidak memandang pemenuhan Cara Produksi yang Baik semata-mata sebagai kewajiban regulatori, melainkan sebagai kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus melindungi konsumen.
Komitmen terhadap mutu juga membutuhkan keterlibatan aktif dari pelaku usaha. Penerapan Cara Produksi yang Baik harus menjadi bagian dari budaya mutu yang diterapkan secara konsisten oleh seluruh personel, mulai dari pimpinan hingga petugas yang terlibat langsung dalam proses produksi.
Dokumentasi yang tertib, pengendalian proses yang efektif, pemeliharaan fasilitas dan peralatan, pengawasan bahan baku, serta evaluasi terhadap setiap penyimpangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan.
Di sisi lain, BBPOM di Denpasar terus mendorong sinergi dan komunikasi dengan pelaku usaha agar pengawasan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kepatuhan.
Pengawasan sarana produksi Sediaan Farmasi dan Pangan Olahan pada akhirnya merupakan upaya bersama untuk memastikan masyarakat memperoleh produk yang aman, bermutu, dan memenuhi ketentuan.
Melalui pengawasan post market yang berbasis risiko dan penilaian penerapan Cara Produksi yang Baik, BBPOM di Denpasar berupaya memastikan bahwa pengendalian mutu tidak berhenti pada produk akhir, tetapi telah dibangun sejak proses produksi.
Dari hulu hingga hilir, pengawasan dilakukan untuk satu tujuan: melindungi kesehatan masyarakat dan membangun kepercayaan terhadap produk obat dan makanan yang beredar.
Editor : Rosihan Anwar