DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Keberhasilan merawat bayi prematur tidak lagi hanya diukur dari sejauh mana sang bayi mampu bertahan melewati masa kritis di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Lebih dari itu, fokus dunia medis kini bergeser pada bagaimana memastikan mereka dapat tumbuh, berkembang, dan memiliki kualitas hidup yang optimal hingga dewasa.
Perubahan paradigma inilah yang dirangkum secara komprehensif dalam buku Bayi Prematur Menjemput Harapan karya Prof. dr. Tono Djuwantono, Sp.OG Subs. F.E.R(K), DR. dr. Tetty Yuniati, Sp.A Subs Neo(K), dan dr. I.G.A. Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS. Buku terbitan Penerbit Buku Kompas ini dibahas secara mendalam dalam sebuah diskusi buku di Denpasar.
Perjalanan merawat bayi prematur membutuhkan penanganan yang berkelanjutan (continuum of care). Kolaborasi tiga pakar dalam buku ini memetakan setiap fase penting yang harus dilalui orang tua:
- Masa Kehamilan & Pencegahan (Prof. Tono Djuwantono): Penanganan dimulai jauh sebelum persalinan. Prof. Tono menekankan pentingnya mempersiapkan kondisi kesehatan ibu, mendeteksi riwayat penyakit keluarga, serta memantau risiko persalinan prematur sejak dini.
- Fase Kritis di NICU (dr. Tetty Yuniati): Bayi yang lahir sebelum organ-organnya matang (seperti paru-paru dan sistem imun seluler) membutuhkan penanganan intensif yang presisi. Dr. Tetty menjelaskan indikator klinis penanganan NICU sekaligus pentingnya menjaga kesehatan emosional ibu agar produksi ASI tetap lancar.
- Pendampingan Tumbuh Kembang di Rumah (dr. I.G.A. Nyoman Partiwi): Fase pasca-NICU menjadi titik awal perjuangan jangka panjang. Dr. Tiwi mengusung konsep Family Integrated Care (FICare), di mana orang tua dilibatkan langsung dalam perawatan harian sejak di rumah sakit hingga di rumah.
Deteksi Dini dan Nutrisi Sejak Hamil
Dalam paparannya, Prof. dr. Tono Djuwantono menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua terhadap risiko kelahiran prematur dan perlunya intervensi medis sebelum bayi lahir.
"Setiap kehamilan membawa harapan. Ketika bayi lahir prematur, harapan itu tidak boleh berhenti. Ilmu kedokteran terus berkembang, tetapi hasil terbaik hanya dapat dicapai ketika tenaga kesehatan dan keluarga berjalan bersama secara harmoni mendampingi setiap bayi," ujar Prof. Tono.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemantauan tanda-tanda kontraksi abnormal serta pemenuhan nutrisi ibu sejak awal masa kehamilan.
"Untuk ibu hamil, kecukupan nutrisi itu penting baik untuk ibu, janin, maupun persiapan menyusui. Si bayi itu belum punya kekebalan seluler yang matang. Apalagi bayi prematur, kematangan organ dan daya tahan tubuhnya kurang baik, jadi semua itu bisa kita siapkan dari masa kehamilan," jelasnya.
Orang Tua Bukan Sekadar Pengunjung
Salah satu gagasan utama yang diangkat dalam buku ini adalah penerapan Family Integrated Care (FICare). Pendekatan ini mengubah peran orang tua di ruang NICU—dari sekadar pengunjung di balik kaca menjadi bagian aktif dari tim perawatan.
"Teknologi membantu bayi bertahan hidup. Namun, kehadiran keluarga membantu mereka bertumbuh. Ketika orang tua menjadi bagian dari proses perawatan, manfaatnya dapat dirasakan jauh setelah bayi meninggalkan NICU," ungkap dr. Tetty.
Keterlibatan aktif orang tua terbukti secara medis mampu menstabilkan kondisi bayi, mempercepat kenaikan berat badan, serta memperkuat ikatan emosional (bonding) yang sangat penting bagi perkembangan jangka panjang anak.
Buku Bayi Prematur Menjemput Harapan yang telah beredar sejak Juni 2026 ini kini tersedia di seluruh jaringan toko Gramedia di Indonesia sebagai jembatan informasi ilmiah dan panduan praktis bagi keluarga Indonesia.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com