Oleh: Santy Sastra
(Mindset Motivator & Hypnoterapist)
NEGATIVITY bias adalah kecenderungan otak untuk lebih ingat yang buruk daripada yang baik. Satu hinaan lebih nempel daripada sepuluh pujian.
Ini bukan karena kita jahat. Ini bawaan dari nenek moyang. Dulu yang berbahaya harus diingat agar selamat.
Otak kita punya alarm. Alarm itu lebih sensitif pada ancaman. Jadi berita buruk langsung masuk prioritas.
Contohnya di sekolah. Nilai sembilan pelajaran bagus, satu jelek. Yang dipikirkan semalaman yang jelek itu.
Di media sosial juga sama. Seratus komentar baik terlewat. Satu komentar jahat dipikirkan terus sampai susah tidur.
Pasangan juga kena. Satu kali berbuat salah, kebaikan setahun bisa lupa. Padahal tidak adil.
Ciri negativity bias adalah fokus pada kekurangan. Selalu cari apa yang salah. Sulit merasa cukup.
Efeknya bikin cemas berlebihan. Dunia terlihat lebih menakutkan dari aslinya. Kita jadi mudah curiga.
Lalu bikin kita susah memulai. Takut gagal. Karena otak sudah membayangkan skenario terburuk duluan.
Lama-lama percaya diri turun. Kita merasa tidak mampu. Padahal bukti keberhasilan juga banyak.
Kabar baiknya, bias ini bisa dilatih. Otak bisa diajari melihat sisi seimbang.
Cara pertama tulis tiga hal baik setiap malam. Kecil saja. Misalnya hari ini makan enak, jalan lancar, dan sempat tertawa.
Cara kedua tahan dulu sebelum menilai. Tanya, apakah ini fakta atau hanya pikiran buruk saya saja.
Cara ketiga beri jarak. Jangan langsung balas saat marah. Beri jeda 10 menit. Tarik napas dalam.
Negativity bias tidak akan hilang total. Itu bagian dari otak. Tapi kita bisa mengecilkannya.
Dengan sadar memilih melihat yang baik juga, hidup jadi lebih ringan. Tidak semua yang buruk itu benar-benar buruk. (ss/han)
Editor : Rosihan Anwar