BPOM Ingatkan Bahaya Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter

Marsellus Pampur • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 16:04 WIB
Kepala BPOM Taruna Ikrar di Taman Inspirasi Muntig Siokan, Pantai Mertasari, Denpasar Selatan, Minggu (1/11)
Kepala BPOM Taruna Ikrar di Taman Inspirasi Muntig Siokan, Pantai Mertasari, Denpasar Selatan, Minggu (1/11)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Dalam rangka memperingati World AMR Awareness Week (WAAW) dan mendukung penguatan upaya pengendalian resistensi antimikroba, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan kegiatan Self-Care AMRun 2026.

Kegiatan ini meliputi kegiatan fun run sejauh 5 kilometer dan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan obat yang bertanggung jawab serta pencegahan resistensi antimikroba. 

Kepala BPOM Taruna Ikrar di Taman Inspirasi Muntig Siokan, Pantai Mertasari, Denpasar Selatan, Minggu (1/11) pagi mengatakan, kegiatan ini merupakan nagiandari edukasi masyarakat yang dilakukan Badan POM bekerjasama dengan industri farmasi bersama adnegan kementrian terkait.

”Kita mengharapkan bahwa acara pada pagi hari ini menghimpun kesadaran masyarakat bahwa antimikroba resistence merupakan ancaman nyata. Karena bisa menyebabkan apa yang kita sebut silent pendemic," katanya kepada media.

Melalui kegiatan olahraga seperti lari, dan edukasi langsung kepada masyarakat, kesadaran terhadap risiko ini diharapkan makin tinggi.

Dia mengungkap, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Badan POM mulai dari tahun 2022 hingga 2025, penggunaan anti biotik tanpa menggunakan resep dokter mendekati angka 80 persen.  

”Artinya dari 100 orang yang menggunakan antibiotik, ada 80 orang yang menggunakannya tidak sesuai.

Karena anti biotik itu merupakan obat keras dan wajib hukumnya menggunakan resep dokter. 

Fakta itu menunjukan bahwa, betul masih ada 80 persen masyarakaat yang menggunakan antibiotik secara tidak rasional," ungkapnya.

Lanjut dia, terkait tingkat resistensi bakteri Escherichia coli atau E coli terhadap kelompok obat turunan penisilin saat ini juga mencapai 43 persen di Indonesia.

Artinya, dari 100 orang yang terinfeksi E Coli, 43 orang diantaranya tak mempan lagi dengan menggunakan turunan-turunan penesilin.

Fakta ini menurut dia merupakan sebuah ancaman nyata terkait anti mikroba resistence sudah di depan mata kita. 

”Jangan sampai terjadi silent pandemic. Oleh karena itu mari kita gunakan antibiotik secara benar, secara bijak dengan memastikan sesuai anjuran dokter," tambahnya.

Sementara terkait pengawasan sendiri, BPOM sendiri sudah melakukan pengawasan dari dulu ke hilir.

”Tentunya, kami mengawasinya dari hulu sampai hilir. Mulai dari cara pembuatan yang baik, nomor ijin edarnya hingga distribusinya," tandasnya.

Editor : Rosihan Anwar
Self-Care AMRun 2026 bpom