Kepala UPT Pasar Klungkung, I Komang Sugianta, Rabu (3/5) mengungkapkan, barang-barang dagangan para pedagang yang akan diganti rugi adalah barang yang rusak dan tidak bisa dikembalikan. Seperti dagangan berupa kain, kasur, peralatan rumah tangga lainnya yang sama sekali tidak bisa dikembalikan atau difungsikan. “Total kerugian yang dialami pedagang akibat musibah banjir tersebut berkisar Rp75 juta-Rp90 juta,” katanya.
Terkait ganti rugi tersebut, menurutnya pelaksana proyek Pasar Rakyat Tematik Wisata Semarapura belum memberikan kepastian kesanggupan ganti rugi atas musibah kebanjiran yang dialami sejumlah pedagang di kios basement Blok C Pasar Umum Semarapura. Meski persoalan ganti rugi sudah disampaikan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta kepada pihak pelaksana.
Begitu juga permohonan ganti rugi kepada pedagang dipertegas oleh Kadis Koperasi UKM dan Perindag Wayan Ardiasa. “Pelaksana proyek minta diberikan waktu untuk membicarakan di internal mereka, seperti apa formulasinya dan kepastiannya. Dalam seminggu ini mudah-mudahan ada jawaban. Pak Kadis juga sudah menyampaikan soal ganti rugi kepada pedagang, kalau bisa dalam minggu-minggu ini sudah ada jawaban,” ujarnya.
Sebelumnya, diberitakan pasca adanya proyek pembangunan Pasar Rakyat Tematik Wisata Semarapura, untuk kedua kalinya sejumlah kios di basement Blok C Pasar Umum Semarapura kebanjiran saat diguyur hujan. Banjir Rabu (26/4) menjadi yang terparah. Sebab banjir tidak hanya berupa air, tetapi mengandung lumpur pekat yang merendam barang dagangan para pedagang sehingga kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Pedagang pakaian adat Bali di basement Blok C, Ni Ketut Adnyani mengaku baru mengetahui kiosnya kebanjiran saat akan membuka kios, Rabu (26/4) sekitar pukul 07.00. Saat tiba di kios, banjir sudah surut tetapi menyisakan lumpur cukup tebal sekitar 4 cm pada lantai keramik kios.
Menurutnya, banjir kemarin merupakan banjir kedua kali sejak adanya proyek pembangunan Pasar Rakyat Tematik Wisata Semarapura bernilai Rp58 miliar tersebut. Banjir pertama yang terjadi seminggu lalu tidaklah tinggi sehingga hanya sampai pelantaran depan kios. “Sehingga tidak ada kerugian waktu banjir pertama,” ujarnya.
Tetapi untuk banjir kemarin, air menggandung lumpur pekat itu berhasil masuk ke dalam kios dengan ketinggian sekitar lutut orang dewasa. Itu dapat diperkirakannya dari barang dagangan yang basah dan kotor oleh banjir. Kondisi itu membuat barang dagangannya yang berupa kain dan pakaian adat Bali lainnya sulit untuk dijual kembali.
“Baru kemarin (25/4), barang dagangan saya datang dan langsung bayar. Tahu-tahunya sudah terendam banjir. Saya belum tahu kerugiannya berapa. Sudah penjualan sepi karena akses jalan masuk ke sini ditutup proyek, sekarang kena musibah seperti ini,” tuturnya.
Melihat kerugian yang besar atas musibah itu, dia meminta kepada instansi terkait untuk segera menindaklanjuti. Sehingga peristiwa banjir hingga merendam kios para pedagang tidak kembali terjadi. “Saya minta agar segera dicarikan solusi,” tandasnya.
Sedangkan Ni Luh Ketut Siti, pedagang seprai, kasur dan kain yang kiosnya turut terendam berharap kepada pelaksana proyek mau mengganti rugi barang dagangannya. Sebab barang dagangannya yang terendam banjir tidak mungkin bisa kembali seperti semula meski telah dicuci dan dijemur. “Semoga ada ganti rugi. Ini kalau ada yang mau, saya obral saja,” ujarnya. (ayu/rid) Editor : M.Ridwan