Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Klungkung, I Wayan Ardiasa, saat dikonfirmasi Senin (15/5) mengungkapkan, sembilan pedagang asement Blok C Pasar Umum Semarapura yang kiosnya terendam banjir Rabu (26/4) telah mengajukan angka kerugian dialami. Total kerugian yang diajukan para pedagang tersebut mencapai Rp149 juta lebih. “Rekanan mengaku siap mengganti rugi, tetapi tidak sebesar itu,” terangnya.
Terkait hal itu, pihak rekanan akan melakukan pendataan kerugian ulang didampingi pihak UPT Pasar Klungkung. Tim pun akan dibentuk dan diturunkan pihak rekanan untuk melakukan pendataan kerugian ulang. “Mereka mau ganti rugi tetapi belum ada titik temu,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, pasca adanya proyek pembangunan Pasar Rakyat Tematik Wisata Semarapura, untuk kedua kalinya sejumlah kios di basement Blok C Pasar Umum Semarapura kebanjiran saat diguyur hujan. Banjir Rabu (26/4) menjadi yang terparah. Sebab banjir tidak hanya berupa air, tetapi mengandung lumpur pekat yang merendam barang dagangan para pedagang sehingga kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Pedagang pakaian adat Bali di basement Blok C, Ni Ketut Adnyani mengaku baru mengetahui kiosnya kebanjiran saat akan membuka kios, Rabu (26/4) sekitar pukul 07.00. Saat tiba di kios, banjir sudah surut tetapi menyisakan lumpur cukup tebal sekitar 4 cm pada lantai keramik kios. Menurutnya, banjir kemarin merupakan banjir kedua kali sejak adanya proyek pembangunan Pasar Rakyat Tematik Wisata Semarapura bernilai Rp58 miliar tersebut. Banjir pertama yang terjadi seminggu lalu tidaklah tinggi sehingga hanya sampai pelantaran depan kios. “Sehingga tidak ada kerugian waktu banjir pertama,” ujarnya.
Tetapi untuk banjir kemarin, air menggandung lumpur pekat itu berhasil masuk ke dalam kios dengan ketinggian sekitar lutut orang dewasa. Itu dapat diperkirakannya dari barang dagangan yang basah dan kotor oleh banjir. Kondisi itu membuat barang dagangannya yang berupa kain dan pakaian adat Bali lainnya sulit untuk dijual kembali. “Baru kemarin (25/4), barang dagangan saya datang dan langsung bayar. Tahu-tahunya sudah terendam banjir. Saya belum tahu kerugiannya berapa. Sudah penjualan sepi karena akses jalan masuk ke sini ditutup proyek, sekarang kena musibah seperti ini,” tuturnya.
Melihat kerugian yang besar atas musibah itu, dia meminta kepada instansi terkait untuk segera menindaklanjuti. Sehingga peristiwa banjir hingga merendam kios para pedagang tidak kembali terjadi. “Saya minta agar segera dicarikan solusi,” tandasnya.
Sedangkan Ni Luh Ketut Siti, pedagang seprai, kasur dan kain yang kiosnya turut terendam berharap kepada pelaksana proyek mau mengganti rugi barang dagangannya. Sebab barang dagangannya yang terendam banjir tidak mungkin bisa kembali seperti semula meski telah dicuci dan dijemur. “Semoga ada ganti rugi. Ini kalau ada yang mau, saya obral saja,” ujarnya. (ayu/rid) Editor : M.Ridwan