Meski demikian, Dinas Kesehatan Klungkung memberikan suntikan VAR kepada sejumlah warga yang melakukan kontak erat dengan bocah tersebut.
Kadis Kesehatan Kabupaten Klungkung, dr. Made Adi Swapatni, Selasa (30/5) mengungkapkan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Bali terkait meninggalnya Keyla yang dua bulan lalu sempat digigit anjing peliharaan tetangga. Dia pun telah mengirimkan sampel air liur Keyla untuk memastikan keterkaitan gigitan anjing dengan penyebab kematian anak tersebut. “Pemeriksaannya harus ke pusat,” katanya.
Meski hasil pemeriksaan Keyla belum keluar, diungkapkannya sejumlah keluarga dan kerabat Keyla telah mendapatkan VAR kemarin. Itu sebagai bentuk pencegahan sekaligus memberikan rasa aman bagi keluarga pasien yang sempat melakukan kontak erat. “Kalau dari anamnesa (wawancara medis) staf saya di lapangan, dia (Keyla) sempat datang ke bidan tanggal 28 Mei keluhannya tidak bisa kencing. Biasanya kalau orang rabies itu takut dengan air, itu tidak saya dapatkan dari bidan saya,” jelasnya.
Disinggung mengenai kematian anjing yang ditutup-tutupi pemilik anjing, dijelaskannya, anjing yang menggigit Keyla mati usai masa observasi, yakni 10-14 hari. Itu sebabnya pemberian VAR tidak dilakukan kepada Keyla yang menurutnya mengalami gigitan anjing risiko rendah.
“Jadi kami punya SOP. Kalau risiko rendah menunggu observasi 10-14 hari. Untuk kasus ini, anjingnya masih hidup setelah observasi, cuma berikutnya kami tidak tahu matinya anjing itu. Sebab pemilik anjing tidak lapor. Tetapi saat observasi selama 14 hari itu, anjing masih hidup sehingga tidak diberikan VAR,” bebernya.
Berkaca dari kasus tersebut dan kekhawatiran sejumlah warga yang mendapat gigitan anjing belakangan ini, Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta telah menugaskan Dinas Kesehatan Klungkung untuk memberikan VAR pertama bagi korban gigitan anjing, meski tergolong risiko rendah. Dengan begitu, menurutnya masyarakat akan merasa tenang. “SOP pemberian vaksin berdasarkan gigitan itu dari pusat. Dan kami di Klungkung berinovasi langsung memberikan vaksin kepada warga yang digigit anjing,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Gede Juanida, mengungkapkan vaksinasi terhadap anjing di Desa Tegak telah dilakukan Januari 2023 lalu. Berdasarkan hasil investigasi, anjing disebutkan telah divaksin. Hanya saja pihaknya akan memastikan kembali vaksinasi anjing yang menggigit Keyla melalui catatan yang dimiliki Distan Klungkung.
Menurut informasi yang dia peroleh, anjing tersebut mati sebulan setelah menggigit Keyla. “Kalau secara terori, bila benar mati sebulan setelah menggigit, tidak mungkin menularkan rabies. Tetapi kami tidak tahu apakah informasi itu benar adanya. Hasil lab dari anak yang meninggal ini yang bisa menegaskan atau sebagai kunci, apakah benar rabies atau tidak,” jelasnya.
Sementara itu, ayah Keyla, Gede Adinatha menuturkan selama ini kondisi anak keduanya itu baik-baik saja. Namun pada Minggu (28/5), nafsu makan dan minum Keyla menurun. Bahkan saat diberi minum, Keyla tersedak dan takut dengan air. Kondisinya kian para pada Senin (29/5) dini hari sehingga dilarikan ke IGD RSUD Klungkung.
Dalam perjalanan ke RSUD Klungkung menggunakan sepeda motor, Keyla terus menggigil. Setibanya di IGD, mulut Keyla mulai mengeluarkan air liur. Lantaran kondisinya terus menurun sehingga akhirnya dibawa ke ICU.
“Berdasarkan hasil cek lab, katanya ada infeksi ginjal, kemudian ada infeksi di darah. Bingung juga dokternya. Anak saya besok akan dibawa pulang dari rumah sakit. Karena anak saya belum ketus (copot) gigi, akan dilakukan penguburan dan upacara ngelungah,” ungkapnya. (dewa ayu pitri arisanti/radar bali)
Editor : Hari Puspita