Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dinilai Lebih Menguntungkan, Petani Klungkung Diajak Aplikasikan Teknologi Pertanian Organik

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Jumat, 6 September 2024 | 23:50 WIB
PANEN PADI ORGANIK : Pertanian organik di Klungkung . (Foto: Dinas Pertanian Klungkung).
PANEN PADI ORGANIK : Pertanian organik di Klungkung . (Foto: Dinas Pertanian Klungkung).

 

SEMARAPURA, Radar Bali.id- Pemerintah terus berupaya mendorong para petani untuk mengaplikasikan teknologi pertanian organik demi produktivitas yang lebih tinggi dan pertanian yang berkelanjutan.

Kali ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menyasar petani di Desa Takmung yang dibalut dalam Program Sekolah Lapang (SL) Gerakan Tani Pro Organik.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung, Ida Bagus Gede Juanida, Kamis (5/9/2024) mengungkapkan, program yang telah berjalan sejak April 2024 ini melibatkan 30 petani dari 10 kelompok tani (Poktan) di Desa Takmung.

 

Kegiatan Sekolah Lapang ini bersumber dari dana dekonsentrasi APBN Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian yang disalurkan melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali.

”Pendanaan tersebut digunakan untuk meningkatkan kapasitas petani melalui pelatihan teknologi pertanian organik yang berfokus pada pemanfaatan sumber daya lokal dan teknik ramah lingkungan,” terangnya.

Kamis  (5/9/2024), dilakukan panen bersama di dua lokasi laboratorium lapangan. Panen ini bertujuan untuk mengukur produktivitas hasil panen melalui metode ubinan, guna memastikan hasil yang akurat dan representatif. Berdasarkan hasil pengambilan sampel ubinan, rata-rata produktivitas mencapai tujuh ton per hektare.

”Hasil panen itu menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan rata-rata produktivitas Kecamatan Banjarangkan pada tahun sebelumnya, yakni 6,2 ton per hektar,” ungkapnya.

Lebih lanjut Juanida menekankan agar para petani menjual hasil gabahnya secara timbangan yang benar untuk memastikan keadilan dalam perdagangan hasil panen.

Hal ini juga ditegaskan kembali oleh Koordinator Penyuluh Pertanian dari BPSIP Provinsi Bali, I Made Sukadana, yang meminta petani lebih teliti dalam menjual hasil panennya agar sesuai dengan standar yang berlaku.

Seorang petani peserta SL, I Nyoman Karma, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas pelaksanaan Sekolah Lapang ini. Menurutnya program tersebut sangat bermanfaat.

”Karena dengan bertani secara organik, biaya produksi bisa dikurangi. Bahan-bahan untuk pupuk organik dan pestisida nabati tersedia di sekitar kita, sehingga tidak perlu lagi membeli bahan kimia yang mahal,” tandasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#Organik #pertanian #klungkung