Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Upaya Pelestarian Aksara Bali di Klungkung: Kini Bisa Menjadi Gengsi, Parade pun Disambut Antusias

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Sabtu, 3 Mei 2025 | 18:35 WIB
BERADU TERAMPIL : Parade Nyurat Aksara Bali ring Lontar memeriahkan Festival Semarapura VII di depan Monumen Ida Dewa Agung Jambe. (foto:humas pemkab klungkung).
BERADU TERAMPIL : Parade Nyurat Aksara Bali ring Lontar memeriahkan Festival Semarapura VII di depan Monumen Ida Dewa Agung Jambe. (foto:humas pemkab klungkung).

Parade Nyurat Aksara Bali ring Lontar menjadi salah satu kegiatan yang diselenggarakan Pemkab Klungkung dalam memeriahkan Festival Semarapura VII di depan Monumen Ida Dewa Agung Jambe, Rabu (30/4/2025).Anak-anak muda pun cukup antusias mengukutinya.

ACARA parade ini digelar sebagai upaya Pemkab Klungkung dalam melestarikan tradisi tulis menulis aksara Bali pada daun lontar yang merupakan warisan budaya leluhur.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Kadisdikpora) Klungkung, I Ketut Sujana, parade menulis aksara Bali pada daun lontar rutin digelar dan dirangkai dengan kegiatan-kegiatan besar Pemkab Klungkung. Seperti Bulan Bahasa Bali, festival-festival, dan even lainnya.

Upaya pelestarian ini diperlukan karena parade, kompetisi atau lomba menjadi salah satu pemantik semangat siswa dan sekolah untuk terus berlatih menulis aksara Bali pada daun lontar.

”Perlu adanya parade atau kompetisi untuk memacu semangat anak-anak dan sekolah. Karena gengsi sekolah yang dipertaruhkan dalam kompetisi sehingga mereka akan semangat untuk belajar,” terangnya.

Melihat pentingnya kompetisi sebagai upaya pelestarian menulis aksara Bali pada daun lontar, dia memiliki keinginan untuk menggelar kompetisi setiap tiga bulan sekali. Hanya saja karena terbentur anggaran, dia meminta setiap sekolah untuk memasukkan kompetisi menulis aksara Bali pada daun lontar dalam rangkaian acara hari ulang tahun (HUT) masing-masing sekolah.

”Nyurat lontar ini bukan keterampilan yang bisa dilakukan secara dadakan. Ini butuh latihan tekun. Jadi penting untuk terus diasah dan dipacu semangatnya melalui kompetisi,” tegasnya.

Terkait Parade Nyurat Lontar pada rangkaian Festival Semarapura VII, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Klungkung, I Ketut Suadnyana mengungkapkan kegiatan itu diikuti sebanyak 107 peserta.

Biasanya kompetisi seperti ini memang melibatkan banyak siswa dari sejumlah sekolah di Klungkung.

”Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan kita untuk melestarikan adat dan budaya luhur Bali,” katanya.

Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra yang hadir dalam kesempatan tersebut mengapresiasi kegiatan Nyurat Aksara Bali ring Lontar. Menurutnya kegiatan itu merupakan upaya untuk melestarikan adat budaya Bali.

”Dari usia sedini kita mengenalkan dan mengajarkan nyurat aksara Bali (menulis aksara Bali) kepada adik-adik siswa. Upaya ini dilakukan agar ke depan mereka semakin mencintai dan ikut melestarikan warisan budaya leluhur. Jadi mari bersama-sama terus cintai dan lestarikan warisan budaya leluhur ini,” harapnya. [dewa ayu pitri arisanti/sandi maulana]

Editor : Hari Puspita
#seni #lontar #aksara bali #bahasa #budaya #klungkung