Petani di Subak Tohpati, Desa Tohpati, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, akhirnya bisa bernapas lega. Ini gegara lebih dari lima tahun lahan pertanian mereka seluas 25 hektare mengalami kekeringan ekstrem. Krisis air ini dipicu oleh kerusakan total pada terowongan saluran irigasi utama.
KEKERINGAN itu bukan tanpa sebab, tentunya. Kelian Subak Tohpati, I Nengah Sudana, menyampaikan bahwa lahan mereka kini dipenuhi rumput liar akibat tak tersentuh air sejak tahun 2023, dengan kondisi yang mulai parah sejak terowongan irigasi jebol pada 2018.
"Kami sudah pasrah. Bersyukur pemerintah turun tangan. Kami berharap tahun depan (2026) air sudah mengalir lagi agar lahan bisa kami olah," ujar Sudana, menyampaikan apresiasi atas tindak lanjut pemerintah.
Saluran Lama Rusak Total, Solusi Pembangunan Baru
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung, Ida Bagus Gede Juanida, memastikan bahwa persoalan ini telah menjadi prioritas dan tengah dalam proses rehabilitasi jaringan irigasi.
Secara teknis, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Klungkung, I Ketut Mana, menjelaskan bahwa perbaikan saluran lama sudah tidak memungkinkan karena struktur terowongan rusak total. Oleh karena itu, diputuskan untuk membuat solusi radikal.
"Saluran lama tidak bisa diperbaiki karena struktur terowongan rusak total. Jadi tahun ini akan dibuatkan saluran baru yang akan mengalirkan air dari Tembuku, Bangli, menuju Subak Tohpati," jelas I Ketut Mana.
Pembangunan saluran baru ini mendapat dukungan penuh dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, mengingat proyek ini melintasi jalur lahan pertanian dan memerlukan koordinasi antar kabupaten. Para petani dilaporkan telah menyetujui lahan mereka dilalui untuk pembangunan jalur air vital ini.
"Saat ini sudah dipasang patok, Balai Sungai akan langsung kerjakan. Itu juga akan kami pantau agar benar-benar tuntas dan kebutuhan air petani terpenuhi," tutup Juanida, menandai babak baru bagi pertanian di Subak Tohpati.[*]
Editor : Hari Puspita