Di tengah krisis sampah yang melanda Bali, sebuah solusi unik dan berbasis alam muncul dari Desa Gelgel, Klungkung. Adalah Manah Liang, perusahaan pengolahan sampah yang telah mengubah tumpukan masalah menjadi mata rantai kebermanfaatan, berkat kolaborasi cerdas dengan 'pahlawan' kecil: cacing tanah.
TENTU aktivitas organik ini tak hanya menghasilkan pupuk, cacing-cacing ini kini bahkan menjadi pakan utama untuk ternak ayam di area yang sama, mewujudkan mimpi zero waste sejati.
Berlokasi di Jalan Pantai Klotok, Desa Gelgel, Putu Gede Indra, Direktur Manah Liang, membeberkan praktik yang telah berjalan selama enam bulan terakhir. Setiap hari, Manah Liang mengelola sekitar 10 ton sampah, di mana 70 persen di antaranya merupakan sampah organik.
"Sampah organik inilah yang kemudian diproses menjadi pupuk dengan bantuan vermicompost atau dengan bantuan cacing," tutur Indra.
Prosesnya sangat terstruktur. Mereka menggunakan dua jenis cacing—Lumbricus dan ANC—yang ditempatkan dalam media tanah bertingkat di rak-rak khusus. Setiap lapisan rak berisi sekitar 4 kg cacing. Makanan utama cacing? Kotoran sapi dan sampah buah-buahan busuk yang diambil dari rumah warga dan pasar Desa Gelgel.
Cacing Multitalenta: Produksi Pupuk Menjadi Pakan Ayam
Keunikan metode Manah Liang tidak berhenti pada pupuk vermicompost saja. Setelah cacing-cacing ini selesai mengolah sampah, mereka sendiri diolah menjadi komoditas baru: pakan utama untuk ayam petelur.
Saat ini, peternakan ayam petelur telah dibangun di sekitar area pengolahan sampah. Pihak Manah Liang tengah mengamati secara saksama kualitas telur yang dihasilkan dari pakan berbasis cacing tersebut.
Inilah contoh sempurna di mana limbah kembali diintegrasikan ke dalam siklus produksi makanan.
Inovasi dari Pembalut Hingga Paving Block
Indra dan timnya menunjukkan komitmen untuk tidak meninggalkan sisa sedikit pun. Selain sampah organik, mereka juga mengolah sisa non-organik menjadi beragam produk.
Sampah buah yang diambil dari masyarakat diolah menjadi cairan ECO Enzim yang kemudian dikembangkan menjadi cairan pembersih serbaguna dan hand wash. Sementara itu, sampah non-organik lainnya dimasukkan ke dalam mesin incinerator dan diolah menjadi abu padat yang kemudian dimanfaatkan untuk membuat paving block.
"Sampai sampah pembalut wanita pun kami proses, dijadikan abu, dan dijadikan paving block," ujar Indra, menunjukkan totalitas dalam penanganan limbah.
Dilirik Mancanegara: Role Model Pengelolaan Berkelanjutan
Ide brilian Manah Liang ini rupanya menarik perhatian dunia internasional. Pada Rabu (29/10/2025) pagi, lokasi pengolahan sampah tersebut dikunjungi oleh organisasi Serumpun SusNet Bisnis Network, yang beranggotakan perwakilan dari Malaysia, Singapura, dan Indonesia.
- Norsaidatul Akmar Marzelan, Founder, Chairman, and Secretary General Sustainable Business Network Association Malaysia (SusNet), menjelaskan kunjungan ini adalah bagian dari proyek komitmen berkelanjutan.
"Dalam pelestarian ini kita mesti ada contoh, role model-nya apa yang dinamakan pelestarian, seperti yang dilakukan oleh Manah Liang ini. Mereka sudah punya produk yang dihasilkan, sehingga kami datang ke sini dan melihat secara langsung," sebutnya.
Kunjungan ini sekaligus bertujuan mengintegrasikan Manah Liang ke dalam platform blockchain bernama Smartwaste yang dirancang untuk menghitung jumlah sampah masuk dan diolah secara valid dan real-time.
Swesty, Direktur Utama Astagroup yang membawahi Asta Manah Liang, menegaskan bahwa semua sampah di lokasi itu diolah sesuai dengan nature-nya, demi mencapai target "Zero Waste" yang sudah mereka uji coba selama tiga tahun terakhir.[*]
Editor : Hari Puspita