SEMARAN PURA, RadarBali.id– Nasib kurang beruntung tengah menyelimuti para petani garam tradisional di Pantai Karangnadi, Desa Kusamba.
Sudah tiga bulan lamanya, ladang garam yang biasanya memutih kini terbengkalai akibat hujan deras dan gelombang tinggi yang tak kunjung reda.
Nengah Kertayasa, salah satu petani garam senior sejak tahun 1984, mengungkapkan bahwa produksi mereka lumpuh total karena sangat bergantung pada sinar matahari.
"Kalau tempat penyiraman air laut kena hujan, produksi hari itu langsung gagal. Sekarang stok saya hanya sisa 50 kilogram saja," keluhnya, Kamis (29/1/2026).
Tantangan Bertubi-tubi
Selain faktor alam, para petani juga menghadapi hantaman ekonomi yang pahit:
- Persaingan Tidak Sehat: Munculnya "garam palsu" di pasar tradisional yang mencatut nama besar Garam Kusamba dengan harga jauh lebih murah.
- Harga Jual: Garam asli Kusamba dipatok Rp20 ribu – Rp25 ribu per kilogram, namun pembeli di pasar sering berpaling karena mencari harga yang lebih miring.
- Pesanan Menurun: Pesanan dari sektor Spa dan konsumsi pribadi menurun drastis, sehingga petani kini hanya mengandalkan jatah pesanan terbatas dari koperasi setempat.
Sekadar Bertahan dengan Nigari
Demi menyambung hidup, Kertayasa kini beralih mengandalkan penjualan nigari atau sari air laut (yeh kembar).
Cairan yang digunakan sebagai bahan pembuat tahu ini dijual seharga Rp100 ribu per jeriken. Namun, lagi-lagi prosesnya melambat saat cuaca mendung, memaksa para penjaga tradisi pesisir ini harus memutar otak lebih keras untuk bertahan di tengah ketidakpastian iklim.[*]
Editor : Hari Puspita