Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dihantam Cuaca Buruk hingga Serangan "Garam Palsu" di Pasaran, Petani Garam Kusamba Perlu Uluran Tangan

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Jumat, 30 Januari 2026 | 08:21 WIB
NASIB TAK MENENTU DI MUSIM HUJAN: Petani garam di Kusamba,Dawan,Klungkung, sulit berproduksi di musim hujan. (dewa ayu pitri arisanti/radar bali)
NASIB TAK MENENTU DI MUSIM HUJAN: Petani garam di Kusamba,Dawan,Klungkung, sulit berproduksi di musim hujan. (dewa ayu pitri arisanti/radar bali)

 

SEMARAN PURA, RadarBali.id– Nasib kurang beruntung tengah menyelimuti para petani garam tradisional di Pantai Karangnadi, Desa Kusamba.

Sudah tiga bulan lamanya, ladang garam yang biasanya memutih kini terbengkalai akibat hujan deras dan gelombang tinggi yang tak kunjung reda.

Nengah Kertayasa, salah satu petani garam senior sejak tahun 1984, mengungkapkan bahwa produksi mereka lumpuh total karena sangat bergantung pada sinar matahari.

"Kalau tempat penyiraman air laut kena hujan, produksi hari itu langsung gagal. Sekarang stok saya hanya sisa 50 kilogram saja," keluhnya, Kamis (29/1/2026).

Tantangan Bertubi-tubi

Selain faktor alam, para petani juga menghadapi hantaman ekonomi yang pahit:

Sekadar Bertahan dengan Nigari

Demi menyambung hidup, Kertayasa kini beralih mengandalkan penjualan nigari atau sari air laut (yeh kembar).

Cairan yang digunakan sebagai bahan pembuat tahu ini dijual seharga Rp100 ribu per jeriken. Namun, lagi-lagi prosesnya melambat saat cuaca mendung, memaksa para penjaga tradisi pesisir ini harus memutar otak lebih keras untuk bertahan di tengah ketidakpastian iklim.[*]

Editor : Hari Puspita
#Kusamba #petani garam #produksi menurun #klungkung