SEMARAPURA, Radar Bali.id– Sebagai rumah sakit rujukan utama di Bali Timur, RSUD Klungkung kini menghadapi tantangan besar di luar urusan medis: krisis lahan parkir. Setiap harinya, rumah sakit tipe B ini melayani hingga 2.000 orang, yang memicu kemacetan parah di akses jalan sekitarnya.
Direktur RSUD Klungkung, dr. I Nengah Winata, mengungkapkan bahwa beban kunjungan pasien rawat jalan saja mencapai 500 hingga 800 orang per hari, belum termasuk 800 pegawai dan pengunjung rawat inap.
Terkendala Harga Lahan "Gila-gilaan"
Pihak manajemen sebenarnya telah berupaya melakukan perluasan lahan. Namun, rencana pembelian lahan di belakang rumah sakit terbentur harga yang tidak masuk akal.
"Hasil appraisal (taksiran harga) sebenarnya hanya Rp90 juta per are, tetapi pemilik lahan menawarkan Rp500 juta per are. Padahal aksesnya hanya melalui rumah sakit kami," keluh dr. Winata.
Melihat kebuntuan tersebut, manajemen RSUD Klungkung kini tengah menggodok rencana pembangunan parkir basement guna memaksimalkan lahan yang ada. "Semoga rencana ini disetujui sebagai solusi permanen," harapnya.
Pendapatan Parkir Meroket Di sisi lain, penerapan sistem gate parkir (palang otomatis) terbukti efektif meningkatkan pendapatan rumah sakit. Sejak sistem ini diberlakukan, retribusi parkir naik tajam dari Rp25 juta menjadi Rp47 juta per bulan. Adapun tarif yang dikenakan tetap terjangkau, yakni Rp1.000 untuk motor dan Rp2.000 untuk mobil, sementara para pegawai dibebaskan dari biaya parkir.[*]
Editor : Hari Puspita