SEMARAPURA, Radar Bali.id – Pengelolaan sampah di pasar tradisional terbesar di Klungkung kini menjadi sorotan pusat. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) RI secara khusus mendatangi Kantor UPTD Pengelolaan Pasar Klungkung di Pasar Umum Galiran untuk memantau langsung sistem penanganan limbah di sana, Senin (20/4/2026).
Baca Juga: TPA Mandung Segera Tolak Sampah Bukan Residu, DLH Diminta Mencari Solusi Jitu
Dalam kunjungan tersebut, BPKP mendorong agar pihak pengelola pasar mampu melakukan pengolahan sampah secara mandiri. Namun, keinginan tersebut terbentur realitas di lapangan.
Baca Juga: Olah Sampah Sisa Makanan Kantin dan MBG Jadi Pupuk, SDN 5 Gubug Inovasi Pocaris
Terkendala Lahan dan Kesadaran
Kepala UPTD Pengelolaan Pasar Klungkung, I Komang Sugianta, mengakui bahwa pengolahan sampah mandiri masih sulit direalisasikan. Faktor utamanya adalah keterbatasan lahan di areal pasar yang sudah sangat padat.
"Kami sudah sampaikan kepada BPKP bahwa kami tidak memiliki areal untuk mengolah sampah secara mandiri," ungkap Sugianta.
Saat ini, volume sampah di Pasar Galiran mencapai 4 hingga 6 ton per hari. Ironisnya, sampah-sampah dari pedagang tersebut sebagian besar masih dalam kondisi tercampur atau belum terpilah.
Beban Ganda Petugas Kebersihan
Kondisi ini memaksa 37 petugas pasar bekerja ekstra keras. Dari pagi hingga sore, mereka tidak hanya menyapu, tetapi juga harus memilah sampah satu per satu sebelum dikirim ke TOSS Center sesuai jadwal.
"Kendala utama kami adalah kesadaran pedagang untuk memilah yang masih rendah. Padahal setiap hari sudah diingatkan. Selain itu, kami juga kekurangan tenaga khusus pemilah sampah, sehingga petugas penyapu jalan harus merangkap tugas tersebut," pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita