Kini sudah terbukti. Dinding jeruji besi nyatanya tak mampu membendung kreativitas. Ini terlihat dari produk warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Klungkung yang sukses mencuri perhatian dalam gelaran Festival Semarapura VIII, yang berlangsung dari 28 April hingga 1 Mei 2026.
APRESIASI atas karya itu telah membuat mereka berbinar. Ini membuka stan khusus di tengah hiruk-pikuk kota, Rutan Klungkung memamerkan "wajah lain" dari program pembinaan mereka.
Tak sekadar menjalani masa hukuman, para warga binaan unjuk gigi melalui deretan karya tangan mulai dari kerajinan keben yang rapi, pemuspaan, kotak tisu, hingga pupuk eco shell dan sayur-mayur segar hasil budidaya mandiri.
Hasilnya luar biasa. Selama empat hari pameran, stand ini mencatat omzet penjualan hingga Rp3.140.000 dengan total 28 item produk yang ludes terjual.
Kepala Rutan Kelas IIB Klungkung, Alviantino Riski Satriyo, mengungkapkan bahwa antusiasme pengunjung melampaui ekspektasi. Tercatat 178 orang mengunjungi stand mereka, mulai dari pejabat daerah seperti Bupati dan Sekda Klungkung, kalangan akademisi, hingga Jegeg Bagus Klungkung 2025.
Bahkan, produk lokal ini berhasil menembus pasar internasional secara tak langsung. "Wisatawan mancanegara asal Malaysia, Thailand, hingga Irlandia tampak antusias. Mereka tidak hanya melihat-lihat, tapi juga berbelanja produk karya warga binaan kami," ujar Alviantino, Minggu (3/5/2026).
Baginya, angka jutaan rupiah tersebut adalah simbol kepercayaan publik. Partisipasi dalam festival ini merupakan bukti nyata bahwa program pembinaan di Rutan tidak hanya soal pembentukan karakter dan spiritual, tetapi juga penguatan kemandirian ekonomi.
"Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa mereka (warga binaan) mampu berkarya dan tetap produktif. Keterampilan ini adalah bekal paling berharga saat mereka kembali ke tengah masyarakat nanti," imbuhnya.
Senada dengan itu, Kasubsi Pelayanan Tahanan, Ida Bagus Nyoman Sanjayadiputra, menambahkan bahwa efek dari pameran ini jauh lebih besar daripada sekadar nilai materi. Ada rasa percaya diri yang tumbuh saat karya mereka dihargai dan dibeli oleh orang asing.
"Ini adalah sarana pembinaan mental. Saat produk mereka diapresiasi, rasa percaya diri itu muncul. Hal ini sangat penting untuk proses reintegrasi mereka agar siap kembali berbaur dengan masyarakat tanpa rasa rendah diri," pungkas Sanjayadiputra.
Lewat sepotong ruang pameran di Festival Semarapura, Rutan Klungkung berhasil membuktikan bahwa dari balik tembok penjara pun, kemandirian dan kontribusi ekonomi tetap bisa lahir. [*]
Editor : Hari Puspita