SEMARAPURA, Radar Bali.id - Garis kemiskinan ekstrem masih membayangi sebagian warga di Kabupaten Klungkung. Salah satu potret pilu menimpa Ni Wayan Suathi, 51, seorang buruh tani asal Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida.
Akibat impitan ekonomi, ia bersama anak-anaknya nyaris terdepak dari kamar kos tempat bernaung mereka di Jalan Setiabudi, Semarapura Kaja, Kecamatan Klungkung.
Baca Juga: Wagub Giri Prasta : Relokasi Korban Banjir Banjar dan Bangun Rumah Sehat Layak Huni
Sehari-hari, Suathi harus berjuang menghidupi seorang putri berkebutuhan khusus berusia 21 tahun dan seorang anak laki-laki. Penghasilannya sebagai buruh tani yang tidak menentu membuat dapur mereka jarang mengepul.
Jangankan memikirkan biaya pendidikan anak laki-lakinya yang terpaksa putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMA, untuk membayar sewa kos pun Suathi sudah menunggak selama beberapa bulan terakhir.
Kondisi kritis terjadi saat pemilik kos, yang juga sedang mendesak membutuhkan uang, memberikan tenggat waktu pelunasan yang ketat. Jika gagal membayar, keluarga kecil ini terancam telantar di jalanan.
Mendengar kabar memilukan tersebut, Bupati Klungkung I Made Satria bergerak cepat turun ke lapangan. Tak sekadar memberikan janji, pada Minggu (7/6/2026), sang bupati langsung melunasi seluruh tunggakan biaya sewa kos keluarga Suathi.
Lebih dari itu, Pemkab Klungkung juga mencarikan tempat tinggal baru yang jauh lebih layak. Suathi dipindahkan ke sebuah bangunan berukuran 5 x 4 meter yang terletak strategis di pinggir jalan kawasan Semarapura Kauh.
”Lokasi tempat tinggal yang berada di pinggir jalan diharapkan tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai tempat berteduh dan membangun kehidupan yang lebih baik, tetapi juga bisa membuka peluang usaha untuk menambah penghasilan dan meningkatkan kemandirian ekonomi mereka,” ungkap I Made Satria.
Bupati menegaskan, tindakan cepat ini adalah kewajiban konstitusional mutlak. Menurutnya, pemerintah daerah wajib hadir secara nyata untuk mengulurkan tangan bagi masyarakat yang benar-benar berada dalam kondisi darurat dan membutuhkan pertolongan.[*]
Editor : Hari Puspita