SEMARAPURA, Radar Bali.id – Persoalan pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah Bali memantik perhatian pemerintah pusat. Salah satu inovasi yang menyedot perhatian adalah teknologi pengolahan sampah berbasis pyrolysis di Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) Center, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung.
Yang terbaru, Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat melakoni kunjungan kerja ke TOSS Center Kusamba pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Momen berharga ini tak disia-siakan oleh Bupati Klungkung, I Made Satria. Sang bupati langsung melobi Menteri LH untuk memohon bantuan pendanaan pengolahan sampah teknologi pyrolysis di kawasan wisata Nusa Penida yang membutuhkan anggaran jumbo hingga ratusan miliar rupiah.
Usai meninjau proses pengolahan sampah, Menteri LH Mohammad Jumhur Hidayat mengungkapkan bahwa kunker tersebut bertujuan memastikan setiap pemerintah daerah memiliki inisiatif serta kemandirian dalam mengelola sampah. Menurutnya, Kabupaten Klungkung telah menjadi contoh baik melalui penerapan konsep ekonomi sirkular (circular economy).
”Jadi melibatkan pihak ketiga, kemudian menerapkan teknologi yang menghasilkan suatu produk yang bisa menjadi pendapatan dan terus berkelanjutan. Namanya sirkular,” ungkap Mohammad Jumhur Hidayat, Sabtu (3/10/2026) siang Wita.
Ia menambahkan, jika sistem pyrolysis di TOSS Center ini terbukti sukses secara menyeluruh, model pengolahan serupa bakal direplikasi ke berbagai tempat pengolahan sampah lain di luar Bali. Namun, ia tak menampik adanya tantangan pasar.
”Dari teknologi ini menghasilkan produk bernilai ekonomi. Hanya saja ada problem, Bali pulaunya kecil, sementara industri-industri penyerapnya banyak di Jawa. Sekarang sedang dinegosiasikan harganya. Tentu pemerintah pusat akan mendorong, kalau ada kesulitan pembeli dan sebagainya, kami akan bantu komunikasikan,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Klungkung I Made Satria menegaskan bahwa permohonan bantuan dana ke kementerian sangat krusial mengingat volume sampah harian di Nusa Penida telah mencapai 50 hingga 90 ton per hari. Jumlah jumbo tersebut tidak lagi memungkinkan jika hanya ditangani menggunakan teknologi pembakaran biasa.
”Kalau gedung tempat pengolahannya kami sudah punya di Nusa Penida. Untuk itu kami memohon bantuan pendanaan peralatan teknologi pyrolysis,” ujar I Made Satria.
Diakuinya, nilai investasi untuk mesin pengolahan sampah berbasis pyrolysis memang tidak murah. ”Mesin pyrolysis yang ada di TOSS Center saat ini nilainya berkisar Rp 80 miliar dan masih terus dikembangkan hingga membutuhkan anggaran mencapai Rp 250 miliar,” tandasnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali