Kombinasi melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) serta perubahan iklim ekstrem kian menjepit kehidupan masyarakat pesisir di Bali. Akibat keterbatasan pasokan energi dan tingginya biaya operasional, para nelayan kini semakin kesulitan untuk melaut.
INI kenyataan pahit. Kondisi memprihatinkan ini salah satunya dirasakan para nelayan di Pesisir Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung.
Baca Juga: Nelayan Kusamba, Klungkung, Terobos Cuaca Buruk Gegara Tangkapan Melimpah, Ini Hasil Tangkapannya
Selain memicu lambannya roda ekonomi pesisir, minimnya kepastian pendapatan membuat profesi nelayan terancam kehilangan regenerasi.
Hal tersebut diungkapkan Community Development Azura Indonesia, Elena Zatmika, 34, dalam workshop Pekan Iklim Kedua yang digelar secara daring pada Selasa (6/10/2026) malam. Menurutnya, ketergantungan pada BBM fosil menjadi persoalan serius yang butuh penanganan segera.
Baca Juga: Pakai Kartu Barcode, Mudahkan Nelayan Kusamba Dapatkan Pertalite
Elena membeberkan, untuk melaut selama 5 hingga 8 jam setiap hari, satu perahu nelayan rata-rata membutuhkan 15 hingga 20 liter bensin. Sementara itu, alokasi BBM bersubsidi jenis Pertalite dibatasi hanya 300 hingga 350 liter per bulan untuk tiap nelayan.
”Ketergantungan ini mengakibatkan nelayan kecil menjadi kelompok yang sangat rentan,” ungkap Elena.
Ia menambahkan, apabila jatah kuota BBM subsidi habis di tengah bulan, nelayan tidak punya pilihan selain membeli BBM non-subsidi seperti Pertamax agar tetap bisa bekerja.
”Jika jatah bensinnya sudah habis, mereka terpaksa berpindah menggunakan Pertamax. Biayanya jauh lebih besar dan makin menekan pendapatan,” terangnya.
Beban nelayan di Kusamba kian berat lantaran harus menghadapi rentetan masa paceklik yang berlangsung saban Maret hingga Agustus 2026.
Menjawab tantangan tersebut, Azura Indonesia menggulirkan program Nelayan Lestari sejak 2024. Sebanyak 11 unit mesin perahu berbasis listrik MantaOne telah didistribusikan untuk digunakan secara bergiliran oleh 11 Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan di Desa Kusamba.
Langkah ini terbukti ampuh memangkas biaya operasional nelayan secara signifikan. Apalagi fasilitas pengisian dayanya memanfaatkan stasiun pengisian berbasis tenaga surya (solar charging station).
”Ini upaya kami menekan biaya operasional sekaligus mengurangi ketergantungan nelayan terhadap BBM,” tambah Elena.
Selain hemat modal, penggunaan mesin listrik MantaOne juga terbukti ramah lingkungan. Azura Indonesia mencatat, teknologi ini sukses memangkas emisi karbon hingga 600,11 kg sejak diterapkan pada Februari 2025. Program ini diharapkan dapat terus diperluas hingga menjangkau lebih banyak wilayah pesisir di Bali.[*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali