Dalam aplikasi itu, akan menggandeng 6.000 pangusada (balian usada) yang terhimpun di Gotra Pangusada Bali. Mereka yang memiliki keahlian mengobati secara tradisional. "Yang publish Diskominfos itu namanya situs Bali, nanti menu-menu atau fitur-fitur yang ada di situs Bali itu rumah sakit yang melayani layanan tradisional. Sekarang di Bali semua Rumah Sakit Negeri sudah melayani jadi itu akan ditampilkan. Kalau rumah sakit kan yang melayani tenaga kesehatan yang terlatih bukan pengusada nakesnya disana," ucapnya.
Nakes yang akan melayani pasien di pelayanan kesehatan tradisional adalah orang yang dilatih seperti akupuntur, akupresur, dan energi prana itu yang akan ditampilkan di menu aplikasi untuk pengobatan tradisional di Rumah Sakit. Kedua, selain rumah sakit juga terdapat nama-nama griya sehat yang ada di Bali. "Artinya selain RS, ada geria sehat yang tenaga profesionalnya telah dilatih. Ada nama-nama pengusada nantinya di aplikasi itu. Kalau lihat data di gotra pengusada jumlahnya hampir 6 ribu anggotanya di Bali yang memiliki pengobatan dibidang tradisional," terangnya.
Gede Anom menjelaskan, aplikasi ini bertujuan menyosialisasikan usada Bali atau pengobatan tradisional Bali kepada masyarakat. Bukan untuk orang Bali saja, namun cita-citanya pengobatan tradisional bali dapat dikenal sampai kancah internasional. Sebab, teknik pengobatan tradisional ini digali dari mendapat taksu, keturunan sampai menggali dari lontar-lontar Bali. "Kami kan ada gotra pengusada atau himpunan dari orang-orang dalam tanda kutip ‘balian-balian’ di Bali ya pengusada itu nanti kami himpun semua kita tata semua dalam satu perhimpunan Gotra Pangusada," paparnya.
Para balian usada ini juga memiliki izin praktek dan sertifikat, perkumpulannya akan dibuat seperti organisasi profesi dokter yaitu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI). "Jadi nanti mereka-mereka itu secara resmi kita bisa publish dimana rumahnya, tempat prakteknya, dan keahliannya apa itu nanti kita akan publish biar betul-betul seperti IDI. Karena mereka yang masuk anggota gotra pengusada yaitu pengusada yang dapat sertifikat atau izin praktek istilahnya kalau dokter. Jadi bisa dipertanggungjawabkan apapun yang mereka lakukan dan kalau ada keluhan yang gimana kan bisa masyarakat lapor ke pengusada sama seperti lapor ke dokter. Dan itupun selama ini kan Balian diam-diam dan masyarakat kadang malu. Sekarang sudah di publish kan resmi jadinya," paparnya.
Dengan pengobatan tradasional ini menjadi pilihan untuk masyarakat, akan datang ke jenis pelayanan medis atau non medis. Pengobatannya juga macam-macam ada yang bentuk tamba dalam bentuk air atau tirta, serta ada ramuan herbal. Pasien tinggal klik saja dalam aplikasi tersebut.
Bahkan , khusus ada pengobatan tradisional mungkin lebih ke arah sakit karena magic (ilmu hitam) bisa lihat pengusada disana sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Disediakan juga nama obat-obatan herbal yang diproduksi di Bali yang siap edar .
"Tidak ada obat-obatan medis dari kimia semua obat tradisional. Pengusada ada yang bisa mengobati tulang patah, sakit perut dan bisa mengobati sakit medis. Pengusada tidak ilmiah dan tidak memastikan kesembuhan kalau yang bisa memastikan sembuh pengobatan kimia. Kalau obat-obatan herbal bisa cocok-cocokan. Kalau di Luar Negeri sudah jalan seperti di Jepang dan Tiongkok. Dan kalau obat kimia dikonsumsi terus tak baik untuk ginjal atau hati kita," ucapnya.
Rencananya digitalisasi Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad) terintegrasi melalui aplikasi Situs Bali akan dilaunching tahun ini. Saat ini imbuhnya, aplikasi masih internal karena masih diproses nama-nama pengusada. (feb/rid)
Editor : M.Ridwan