Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, pasien itu diterima di RSUD Buleleng pada Sabtu (27/5) lalu. Saat baru masuk rumah sakit, pasien tidak langsung diserahkan pada dokter syaraf. Pasien hanya menunjukkan gejala mengamuk, sehingga dibawa ke dokter spesialis kejiwaan.
Belakangan pasien itu mengalami penurunan kesadaran, sehingga dokter spesialis penyakit dalam ikut memeriksa. Dari hasil pemeriksaan awal, ada gejala-gejala yang mirip dengan meningitis. Belakangan dari pemeriksaan dokter spesialis saraf, ditemukan tanda kaku kuduk yang identik dengan penyakit radang selaput otak.
“Gejala awalnya tidak spesifik. Setelah diperiksa ada tanda kaku kuduk. Sehingga kami putuskan ambil sampel. Tapi belum sempat ambil sampel, kondisinya memburuk dan meninggal dunia,” kata Dokter Spesialis Saraf pada RSUD Buleleng, dr. Luh Putu Lina Kamelina, Sp.N, kemarin (2/6).
Pasien asal Kecamatan Buleleng itu dinyatakan meninggal pada Senin (29/5). Penelusuran tim medis, korban sempat mengonsumsi lawar getih dari babi. Meski meninggal dengan gejala klinis yang identik dengan penyakit radang selaput otak, namun tim medis menyatakan pasien meninggal dengan status suspek atau diduga meningitis.
“Memang meningitis tergolong salah satu penyakit mematikan. Tapi pasien ini tidak bisa kami nyatakan positif meningitis. Statusnya suspek, karena belum didukung hasil laboratorium,” imbuhnya.
Ia pun menghimbau agar masyarakat berhati-hati dalam mengonsumsi makanan, khususnya olahan babi. Masyarakat diminta mengonsumsi makanan dalam kondisi matang. Sebab salah satu faktor pemicu meningitis adalah mengonsumsi makanan olahan babi dalam kondisi mentah.
Sekadar diketahui dalam sebulan ini ada sepuluh orang pasien yang dirawat di RSUD Buleleng dengan gejala klinis identik meningitis. Dari sepuluh orang pasien itu, sebanyak dua orang diantaranya telah dinyatakan positif meningitis. (eps/rid) Editor : M.Ridwan