Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Jejak Bung Karno dalam Lontar Geguritan Karya Tjokorda Gde Ngoerah

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 22 Juni 2023 | 08:30 WIB

 

MENGENANG SOEKARNO: Pembicara Putu Eka Guna Yasa menjabarkan karya Tjokorda Gde Ngoerah didampingi I Ketut Eriadi Ariana selaku moderator, di Ruang Soekarno, Gedung Poerbatjaraka, Fakultas Ilmu Budaya
MENGENANG SOEKARNO: Pembicara Putu Eka Guna Yasa menjabarkan karya Tjokorda Gde Ngoerah didampingi I Ketut Eriadi Ariana selaku moderator, di Ruang Soekarno, Gedung Poerbatjaraka, Fakultas Ilmu Budaya

DENPASAR, radarbali.id - Tanggal 21 Juni 1970 silam  Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno wafat. Dalam memperingati 53 tahun meninggalnya Putra Sang Fajar-Julukan Bung Karno- Unit Lontar Universitas Udayana menyelenggarakan Seminar Ulas Lontar IV jejak Bung Karno dalam lontar Geguritan Rajendra Prasad yang ditulis  Tjokorda Gde Ngoerah, di Ruang Soekarno di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. 

Dalam seminar itu, narasumber Putu Eka Gunayasa menjabarkan karya Tjokorda Gde Ngoerah mencatat lawatan Presiden Soekarno bersama Presiden pertama India Rajendra Prasad 14-16 1958 di Bali. Dalam geguritan tersebut dicatat Rajendra Prasad dijemput di bandara, menuju ke Denpasar, kemudian ke  istana Tampak Siring dan berkunjung ke Pura Mahasaraswati Ubud, Gianyar. 

"Cokorda Gede Ngurah menulis turunnya Bung Karno di Tampak Siring tidak berbeda dengan Kresna dan Yudistira.  Sukarno disebut Yudistira, Rajendra disebut Hari Murti atau Kresna, mereka seirama mengusahakan kesejahteraan dunia," ucap Pria yang juga Dosen Sastra Balu Universitas Udayana. 

Saat itu, tumben ada presiden datang ke Bali. Istana Tampak Siring,Gianyar  telah dibangun namun, belum sempurna. Tidak ada beda saat itu dengan saat ini, ketika  menjamu  kepala negara datang, pasti disiapkan dengan baik termasuk memperbaiki jalanan yang dilalui.

Lebih lanjut Guna menjelaskan dalam geguritan tersebut ditulis pada saat mengunjungi Pura Mahasaraswati dua pendeta Siwa dan Budha mendoakan Bung Karno dan Rajendra Prasad. "Banten yang digunakan berbagai tebasan dan biyakaonan serta tirta yang dipercikan adalah dari tujuh tirta suci," ujarnya. 

Tidak banyak yang tahu lontar Geguritan Rajendra Prasad, karena hanya disimpan di Unit Lontar Universitas Udayana. Ada satu cakep naskah yang mendokumentasikan tapak dan jejak perjalanan Soekarno. Selain Bali, saat itu Rajendra Prasad mengunjungi Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Magelang, dan Solo.

"Di tempat tinggal Beliau Puri Saren tidak ada. Inilah karya sastra menarasikan figur bung karno dalam bentuk lontar karya sastra geguritan. Lawatan Bung Karno ada foto digital Bandung, Jogja, dan  Surabaya, ketiga tempatnya mengabadikannya dengan memotret, tapi di Bali Bung Karno dicatat pada  karya sastra bentuknya geguritan di atas daun lontar. Bali punya kearifan sendiri," jelasnya  

Guna Yasa menambahkan, Ida Tjokorda Gde Ngoerah merupakan seorang sastrawan, sangging, dan undagi yang mumpuni.  Karyanya dalam sastra  yakni  kakawin Gajah Mada dan enam geguritan. Dalam karya sangging menghasilkan banyak tapel barong, rangda dan rarung di wilayah Gianyar.

Sebagai undagi ia mengarsiteki Puri Saraswati, dan Puri Agung Ubud.  Ia lahir di Puri Saren Kauh, Ubud, Gianyar tahun 1856 dan meninggal tahun  1967 (berusia 111) tahun.  Selain itu, Ida Tjokorda Gde Ngoerah juga  turun ke medan laga untuk menentang kolonialisme Belanda di Bali hingga dipenjara di Gianyar. ***

 

Editor : M.Ridwan
#FIB #lontar #bung karno #Jejak Bung Karno #universitas udayana #ulas lontar