Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cuaca Dingin di Musim Kemarau Gegara Fenomena Aphelion, Begini Menurut BMKG

Jawapos Source control • Selasa, 11 Juli 2023 | 20:15 WIB
Ilustrasi cuaca panas. (Nation Thailand/JPC)
Ilustrasi cuaca panas. (Nation Thailand/JPC)

Radar Bali.id- Cuaca tahun-tahun belakangan ini sejak pemanasan global  semakin parah memang semakin tidak menentu. Musim kemarau, musim hujan bisa kacau.

Seperti akhir-akhir ini, cuaca Indonesia memang sedang tidak menentu. Beredar kabar di media sosial bahwa akhir ini cuaca di Indonesia terasa dingin.

BMKG menjelaskan bahwa keadaan tersebut merupakan fenomena Aphelion. Fenomena tersebut terjadi karena jarak bumi dengan matahari dalam titik terjauh saat periode revolusi.

Fenomena tersebut biasa terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli hingga September. Pada waktu yang bersamaan, secara umum wilayah Indonesia juga sedang berada pada puncak musim kemarau. Hal tersebut dapat mengakibatkan dampak ekstrem pada penurunan suhu di Indonesia.

Fenomena Aphelion ditandai dengan pergerakan angin dari arah Timur-Tenggara yang berasal dari Benua Australia. Terjadinya pola tekanan udara yang relatif tiggi di Australia, mampu menggerakkan massa udara dari Autralia menuju Indonesia.

Dampak angin tersebut dapat mengakibatkan suhu di beberapa wilayah Indonesia terasa lebih dingin. Wilayah utama yang mengalami perubahan suhu adalah bagian selatan khatulistiwa yakni Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Tanda signifikan yang dapat dilihat dari perubahan cuaca tersebut adalah tutupan awan yang tidak secara jelas dalam beberapa hari terakhir karena rendahnya kandungan uap di atmosfer.

Berkurangnya awan dan hujan pada wilayah selatan khatulistiwa pada musim kemarau, mengakibatkan terjadinya suhu  yang dingin pada saat malam hari karena tidak ada uapan air yang dilepaskan oleh bumi.

Fenomena Aphelion ini biasa terjadi setiap tahunnya dan menyebabkan beberapa tempat di dataran tinggi atau wilayah pegunungan berpotensi terjadi embun es.[JPG/jawapos]

Editor : Hari Puspita
#pemanasan global #cuaca akstrem #cuaca dingin