Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mengenal Puncak Carstensz Pyramid, Mengapa Para Pendaki Berpengalaman Meninggal?

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 5 Maret 2025 | 19:54 WIB
Ilustrasi - Jembatan Tyrollean menjelang puncak Cartenz Pyramid di Papua Tengah.
Ilustrasi - Jembatan Tyrollean menjelang puncak Cartenz Pyramid di Papua Tengah.

RADAR BALI - Puncak Carstensz Pyramid menjadi perhatian setelah dua pendaki perempuan Lilie Wijayati Poegiono dan Elsa Laksono meninggal pada 1 Maret 2025.

Kedua pendaki senior tersebut diduga meninggal karena hipotermia dan hipoksia.

Hipotermia adalah suhu tubuh yang menurun drastis, sedangkan hipoksia adalah sindrom kekurangan oksigen dalam jaringan tubuh.

Hipotermia dan hipoksia adalah dua gejala khas penyakit gunung (acute mountain sickness/AMS).

Sejak September 2024, sudah empat pendaki yang meninggal dunia di Carstensz Pyramid.

Pada September lalu, pendaki asal Surabaya Hanafi Tanoto dan seorang pendaki asal Tiongkok meninggal dunia di Carstensz Pyramid.

Hanafi meninggal karena hipotermia, sedangkan pendaki Tiongkok meninggal akibat kesalahan pemasangan alat saat menuruni tebing (descending).

Menariknya, Hanafi, Elsa, dan Lilie bergabung dalam satu komunitas pendaki yakni Kura-Kura Gunung.

Bahkan, salah satu tujuan pendakian Lilie dan Elsa selain menuntaskan seven summits adalah untuk memasang plakat kenangan untuk Hanafi di puncak Carstensz Pyramid.

Plakat tersebut berbunyi: ”Perjumpaan tidak pernah berakhir, seperti awan menjadi hujan dan kembali. Persatuanmu kekal, dalam kami dan semesta. Sang Khalik telah menyambutmu. Kau wariskan semangat yang kami teruskan”.

Plakat tersebut kini telah terpasang di Puncak Carstensz Pyramid. Kedua pendaki memang telah menginjak puncak. Namun, saat kedua pendaki turun dari puncak, baru sampai di Teras Dua, keduanya meninggal diduga akibat hipotermia.

Sejarah Pendakian Carstensz Pyramid

Orang Papua menyebut Gunung Carstenzs sebagai Nemangkawi Ninggok.

Gunung setinggi 4.884 mdpl tersebut termasuk dalam Pegunungan Barisan Sudirman, Papua Tengah.

Gunung Carstenz memiliki tiga puncak, yakni Puncak Jayakesuma 4.884 meter, Puncak Trikora setinggi 4.730 meter, dan Puncak Mandala setinggi 4.640 meter.

Karena puncak Carstensz menyerupai piramida batu, orang menyebutnya sebagai Carstenz Pyramid.

Dari tiga puncak Gunung Carstensz, Puncak Jayakesuma atau sering disingkat Puncak Jaya adalah yang tertinggi. Orang asli Papua menyebut Puncak Jaya alias Carstenzs Pyramid sebagai Nduga-Nduga.

Puncak Jaya sangat terkenal di dunia pendakian karena menjadi salah satu dari world seven summits, yakni puncak-puncak tertinggi dunia yang mewakili setiap benua.

World Seven Summits terdiri dari Kilimanjaro di Afrika, Gunung Elbrus di Eropa, Denali di Amerika Utara, Gunung Aconcagua di Amerika Selatan, Everest di Asia, Vinson Massif di Antartika, Kosciuszko di Australia, dan Puncak Jaya yang mewakili Oseania.

Puncak Jaya adalah salah satu gunung di daerah tropis yang memiliki gletser atau salju abadi. Salju tersebut diduga peninggalan zaman es yang bertahan karena suhu di puncak gunung yang minus.

Gunung Carstensz juga merupakan bagian dari Taman Nasional Lorentz yang telah diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.

Carstenzs Pyramid ditemukan oleh penjelajah asal Belanda Jan Carstenszoon pada tahun 1623 ketika berlayar di Laut Arafuru.

Meski demikian, orang yang pertama kali berhasil mencapai area bersalju di Gunung Carstenzs adalah Hendrik A. Lorentz pada 1909.

Sedangkan orang yang pertama kali menginjak puncak adalah Heinrich Harrer bersama Philip Temple, Russel Kippax, dan Albertus Huizenga.

Sebelum Harrer, Philip Temple adalah orang yang memetakan jalur, merintis akses, dan menjadi penunjuk jalan. Namun, karena keterbatasan logistik, Temple bergabung dalam ekspedisi yang dipimpin Harrer.

Berbeda dengan pendakian modern pada 90-an, ekspedisi pendakian Harrer di Puncak Carstenz menggunakan teknik rock climbing.

Pendaki melakukan rapelling sekitar 20 meter di sisi selatan Carstensz Pyramid, lantas melewati celah sempit, sebelum melakukan rock climbing setinggi 600 meter untuk mencapai punggungan (summit ridge) menjelang puncak.

Orang yang mengubah jalur pendakian Carstenzs menjadi saat ini adalah pendaki legendaris Selandia Baru yang memimpin Adventure Consultants Rob Hall dan Ripto Mulyono dari Treakmate Adventure Indonesia.

Mereka memasang memasang tali sepanjang 20 meter melintasi jurang sedalam 600 meter sebelum mencapai punggungan Carstenzs.

Jembatan tersebut dikenal di kalangan pendaki gunung sebagai Jembatan Tyrolean atau tyrolean traverse.

Jembatan tersebut diperbaiki Franky Kowaas dan tim pemandu gunung asal Manado pada 2007 sehingga memudahkan pendaki menyeberangi patahan tebing.

Jalur Pendakian Carstenz Pyramid

Ada sejumlah cara untuk mendaki Carstenz Pyramid.

1. Jalur Sugapa

Pendaki harus naik pesawat dari Timika atau Nabire ke Distrik Sugapa di Kabupaten Intan Jaya.

Dari Kampung Ugimba di Sugapa yang berada di ketinggian 2.100 mdpl tersebut, pendaki harus berjalan kaki selama satu-dua minggu melewati tanjakan dan turunan di sepanjang jalur New Zealand Pass, termasuk melintasi Sungai Kemabu dan Sungai Nabu yang berarus deras.

Ujung dari New Zealand Pass adalah Lembah Danau-Danau yang berada di ketinggian 4.261 mdpl. Lembah yang memiliki puluhan danau gletser ini berada persis di kaki piramida Puncak Carstensz.

Untuk bisa menuju puncak, pendaki harus melakukan teknik pendakian jumaring di tebing tegak lurus 80 derajat setinggi 600 meter dengan menggunakan jumaring (ascender dan descender) yang mengandalkan seutas tali untuk mencapai punggungan (summit ridge).

Keuntungan dari perjalanan ini adalah aklimatisasi atau pembiasaan tubuh terhadap ketinggian berlangsung lebih baik. Karena pendaki naik secara bertahap dari ketinggian 2.000 meter ke 4.000 meter dalam waktu 1-2 minggu.

2. Jalur Freeport

Pendaki mengawali perjalanan dari Timika lantas naik bus ke Tembagapura selama 5 jam. Dilanjutkan dengan naik trem milik Freeport ke Grasberg dan naik mobil selama 20 menit ke Bali Dump. Dari Bali Dump, pendaki berjalan kaki selama dua jam ke Lembah Danau-Danau.

Ini adalah rute perjalanan yang sangat berisiko AMS karena pendaki naik dari ketinggian 200 mdpl di Timika ke Grasberg yang berada di ketinggian 4.285 mdpl dalam hitungan jam.

Dibutuhkan aklimatisasi selama beberapa hari di Lembah Danau-Danau sebelum melakukan summit attack.

3. Jalur Lembah Kuning

Pendaki memulai pendakian dengan menggunakan helikopter dari Timika selama 40 menit menuju basecamp di Lembah Kuning (Yellow Valley).

Lembah yang berada di ketinggian 4.280 mdpl ini berada di bawah tebing piramid Carstenzs yang tegak lurus dengan dua pecahan lengkungan ketika mendekati punggungan gunung.

Dibutuhkan kemampuan mountaineering, tali temali (figure of 8), dan single rope technique (SRT) yang piawai untuk bisa mendaki ke puncak.

Meski hanya berjarak 600 meter dari basecamp Yellow Valley, terdapat sejumlah pos yang harus dilewati pendaki untuk menuju puncak. Yakni, Teras 1, Teras 2, Teras Besar, Tyrolean Traverse, dan Summit Ridge.

Namun, tantangan terbesar dari pendakian Carstensz adalah cuaca. Berada di ketinggian lebih dari 4.000 meter, cuaca di puncak Carstenzs bisa berubah dalam hitungan detik!

Seorang pendaki dilaporkan mengalami dehidrasi hingga meninggal pada 2016 karena terpaan terik matahari. Dalam waktu beberapa detik setelahnya pendaki lain yang berada dalam satu rombongan dengan korban dilanda hujan salju, angin kencang, dan suhu minus derajat.

Kondisi cuaca yang ditambah dengan minimnya aklimatisasi membuat pendaki rentan mengalami acute mountain sickness atau penyakit akibat perubahan tekanan udara dan kadar oksigen yang lebih rendah di ketinggian.

Selain hipotermia, AMS berisiko menyebabkan mengendapnya cairan di paru-paru (high altitute pulmonary edema/HAPE) dan pendarahan otak akibat ketinggian (high altitude cerebral edema/HACE).

Hal lain yang dilarang adalah berangkat dalam jumlah rombongan yang besar. Salah satu kendala pendakian Carstensz adalah penggunaan satu tali untuk naik maupun turun.

Antrean banyak pendaki dalam cuaca buruk rentan menyebabkan pendaki tidak banyak bergerak sehingga rentan mengalami hipotermia. ***   

 

Editor : Ibnu Yunianto
#carstensz #Gunung Carstensz #tembagapura #Elsa Laksono #Elsa Laksono dan Lilie Wijayanti #Lilie Wijayanti #Carstensz Pyramid #tembagapura papua #fiersa besari #Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono #Lilie Wijayanti Poegiono #Carstenz Pyramid #Carstensz papua #freeport #gunung carstensz papua