RADAR BALI - Awal Januari hingga Maret merupakan periode kunjungan pariwisata yang rendah (low seasons) di Bali.
Periode rendah tersebut berimbas pada penurunan tingkat hunian hotel (okupansi) serta perputaran uang dari kegiatan akomodasi, konsumsi, tiket, transportasi, dan aneka jasa.
Badan Pusat Statistik mencatat okupansi hotel di Bali pada Februari 2025 mencapai 51,62 persen atau turun 8,66 persen dibandingkan Januari 2025.
Bila dibandingkan dengan tahun lalu, tingkat keterisian kamar hotel di Bali pada Februari 2025 tercatat mengalami penurunan 3,65 persen.
Tingkat keterisian kamar hotel di Bali tertolong oleh hotel bintang satu yang mencapai 58,67 persen.
Sedangkan okupansi hotel bintang lima di Bali pada Februari 2025 mencapai 48,59 persen.
Okupansi terendah terjadi pada hotel-hotel nonbintang yang mencapai 36,36 persen.
Angka tersebut meningkat hanya 0,73 persen dibandingkan Januari 2025, meski turun 4,56 persen bila dibandingkan Februari tahun lalu.
Selain okupansi yang turun, lama menginap tamu-tamu di hotel juga mengalami penurunan.
Pada Februari 2025, rata-rata tamu wisatawan asing menginap 2,75 malam di hotel berbintang.
Sedangkan wisatawan domestik rata-rata menginap 2,5 malam.
Rata-rata lama menginap tamu di hotel nonbintang sedikit lebih rendah, yakni 2,41 malam.
Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mengatakan, penurunan terjadi bukan karena efisiensi anggaran pemerintah.
Melainkan karena sedang mengalami masa rendah kunjungan (low seasons). "Trennya memang Februari turun, lalu di Maret naik lagi dan high season itu naik," jelasnya.
Agus Gede Hendrayana mengatakan, industri pariwisata dan perhotelan di Bali tidak hanya mengandalkan turis domestik, namun mengandalkan wisatawan mancanegara.
Karena itu, meski terdapat pengetatan anggaran yang berimbas pada turunnya kegiatan meeting, incentive, conference, dan exhibition (MICE), hotel-hotel di Bali diyakini akan lebih tahan guncangan dibandingkan hotel-hotel di daerah lain yang didominasi turis domestik.
"Bali masih bisa lebih survive karena pasar wisman lebih besar," jelasnya. ***
Editor : Ibnu Yunianto