RADAR BALI - Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.
Namun, di Bali, tanggal 21 April juga menjadi peringatan awal Puputan Klungkung.
Pada 21 April 1908, pasukan Belanda membombardir keraton Semarapura, Gelgel, dan Satria dengan hujan meriam selama enam hari berturut-turut.
Setelah berhari-hari berperang, Raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe gugur beserta seluruh keluarga dan pengikutnya pada 28 April 1908.
Hingga kini tanggal tersebut diperingati sebagai HUT Kota Semarapura, ibu kota Klungkung.
Keberanian Ida Dewa Agung Jambe pun diakui dengan pengakuan sebagai pahlawan nasional kesembilan Bali.
Puputan Klungkung bukan kali pertama peperangan rakyat Klungkung melawan Belanda.
Setengah abad sebelumnya, Klungkung adalah pusat pemerintahan kerajaan-kerajaan di Bali.
Kusamba adalah kota pelabuhan utama Kerajaan Klungkung.
Pada 1814 hingga 1849, Kerajaan Klungkung diperintah oleh penguasa perempuan bernama Ida Dewa Agung Istri Kanya atau yang lebih dikenal sebagai Ida Dewa Agung Istri Balemas.
Istri Kanya merupakan sebutan bagi perempuan yang memilih untuk melajang sepanjang hidupnya.
Pada 23 April 1849, pasukan Belanda yang dipimpin Mayor Jenderal Andreas Victor Michiels menduduki Kusamba setelah memenangkan peperangan yang tidak seimbang di Pura Gua Lawa, sebelah timur Kusamba.
Ratu Ida Dewa Agung Istri Kanya menolak menyerah. Karena kerasnya pendirian Ida Dewa Agung Istri Kanya, Belanda pun menjulukinya "Wanita Besi".
Pada pagi buta 24 April 1849, sebanyak 33 ribu prajurit yang dipimpin Ratu Ida Dewa Agung Istri Kanya bersama pimpinan laskar berani mati (pemating) Dewa Agung Ketut Agung menyerang Puri Kusamba yang dijadikan perkemahan tentara Belanda.
Karena masih gelap, Belanda menembakkan suar ke langit untuk memudahkan memantau pergerakan pasukan.
Pada saat itu, Mayor Jenderal AV Michiels yang berada di depan gerbang puri terkena peluru kanon pusaka Klungkung.
Jenderal yang memenangkan pertempuran Waterloo dan perang padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol tersebut langsung terjerembab karena peluru kanon tepat mengenai kakinya.
Kapten Everste dan tujuh prajurit KNIL lainnya tewas dalam penyerbuan tersebut. .
Pasukan Belanda yang kalah jumlah dan kehilangan pimpinan ekspedisi segera mengundurkan diri ke kapal-kapalnya yang disandarkan di Padangbai.
Jenderal yang menginspirasi Edward Douwes Dekker ketika menulis tokoh Jenderal Van Damme di novel Max Havelaar tersebut meninggal ketika dilakukan amputasi.
Jasadnya dibawa ke Batavia dan dimakamkan di pemakaman kober Kebon Jahe.
Perang Bali III secara resmi dimenangkan oleh rakyat Klungkung.
Meski demikian, pada 10 Juni 1949, Klungkung jatuh setelah Belanda mengirim ekspediri KNIL yang dipimpin Letkol Van Swieten. .
Meski demikian, sebanyak 800 laskar Klungkung tewas berikut 1.000 orang luka-luka.
Selain memerintah negara dan memimpin pasukan, Ida Dewa Agung istri Kanya juga menggemari sastra.
Dia adalah penulis Kakawin Pralambang Bhasa Wewatekan, Kidung Padem Warak, Bhaka Bȗmi, Geguritan Dasa Pandawa, Kakawin Astikayȃna, Kakawin Irawantaka, dan Kakawin Pralambang Bhasa Wewatekan.
Selain itu, Kakawin Pŗȇtu Wijaya atau Kakawin Brahmandha Purana, Kakawin Sakraprajaya, Kidung Padem Warak, dan Tutur Biksu Pungu.
Sebelum Kartini lahir di Rembang pada 1879, Ida Dewa Agung Istri Kanya sudah mendobrak dominasi pria dalam mengelola negara dan memimpin pertempuran yang berakhir dengan kemenangan. ***
. .
Editor : Ibnu Yunianto