Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mengenal Kabel Laut Jawa-Bali yang Jadi Biang Keladi Bali Blackout

Dhian Harnia Patrawati • Sabtu, 3 Mei 2025 | 20:44 WIB

PADAM TOTAL:  Ilustrasi listrik padam total alias blackout se Bali pada Jumat sore, 2 Mei 2025.
PADAM TOTAL: Ilustrasi listrik padam total alias blackout se Bali pada Jumat sore, 2 Mei 2025.

RADAR BALI - Setelah mengalami gangguan listrik selama hampir 11 jam, PLN berhasil memulihkan 100 persen pasokan listrik kepada sekitar 2,1 juta pelanggan di Bali.

Sebelumnya, pada Jumat (2/5) tengah malam, sekitar 1,9 juta pelanggan (90 persen dari total pelanggan listrik di Bali) telah kembali menikmati aliran listrik.

Pemulihan total jaringan listrik di Bali tercapai sekitar pukul 03.30 WITA.

Sempat beredar informasi bahwa pemadaman massal ini disebabkan oleh gangguan pada sejumlah pembangkit listrik di Bali, termasuk PLTU Celukan Bawang, serta adanya masalah pada kabel laut yang menghubungkan Jawa dan Bali.

Namun, informasi terkini mengungkap penyebab sebenarnya dari blackout yang melanda Bali adalah gangguan pada Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 150 KV.

Saluran SUTET tersebut menghubungkan PLTU Paiton dengan Gardu Induk (GI) Watudodol yang lantas menyalurkan daya ke Gardu Induk (GI) Gilimanuk melalui empat sirkuit kabel bawah laut (saluran kabel tegangan tinggi/SKLT) dengan kapasitas maksimal 350 MW.

Gangguan teknis pada SUTET mengakibatkan keempat sirkuit kabel yang saat itu menyalurkan 270 MW listrik tidak dapat mengirimkan daya ke GI Gilimanuk.

Hilangnya pasokan listrik sebesar 270 MW secara mendadak ini menyebabkan subsistem kelistrikan di Bali mengalami kelebihan beban.

Akibatnya, seluruh pembangkit listrik di Bali dipaksa untuk menggantikan kekurangan pasokan tersebut.

Salah satunya adalah PLTU Celukan Bawang di Gerokgak, Buleleng, yang sistemnya menerima permintaan daya reaktif (MVAR) sebesar 228 MW.

Permintaan daya ini jauh melampaui batas aman sebesar 80 MVAR. Untuk mencegah kerusakan pada pembangkit, sistem secara otomatis melakukan pemutusan koneksi (trip) dengan Subsistem Bali.

"Terjadi ketidakseimbangan besar antara pasokan daya dan beban di Subsistem Bali. Hal ini menyebabkan frekuensi anjlok tajam di luar batas aman," jelas Manajer Teknis PLTU Celukan Bawang, Helmy Rosady, dalam keterangan tertulisnya.

Guna menghindari kerusakan akibat kelebihan beban, sejumlah pembangkit listrik PLN maupun swasta yang terhubung dengan subsistem kelistrikan Bali secara otomatis melepaskan diri (trip).

"PLTU Celukan Bawang terlepas dari subsistem sekitar 1 menit setelah pembangkit lain lebih dulu terlepas dari sistem," imbuhnya.

Lantas, Apa Itu Sebenarnya Kabel Laut Jawa-Bali?

Saluran Kabel Laut Tegangan Tinggi (SKLT) Banyuwangi-Gilimanuk terdiri dari empat kabel (sirkuit) yang mulai beroperasi sejak Juni 2014.

Saat dibangun, kabel ini mampu menyalurkan listrik sebesar 300-350 MW dari Jawa ke Bali.

SKLT Jawa-Bali ini terhubung dengan SUTET 150 KV yang menyuplai listrik di subsistem kelistrikan Jawa.

Pembangunan SKLT ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menghemat subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sebelumnya digunakan untuk mengoperasikan sejumlah pembangkit listrik berbahan bakar diesel dan gas di Bali.

Berkat pasokan listrik dari Jawa melalui kabel laut berkapasitas maksimal 350 MW ini, subsidi BBM untuk pembangkit listrik berhasil ditekan hingga setara 40-60 persen, atau setara dengan penghematan Rp 270-400 miliar per bulan.

Dengan demikian, sekitar 40 persen kebutuhan listrik di Bali dipasok melalui kabel laut tersebut.

Kontribusi Pembangkit Listrik Lokal di Bali

Meskipun bergantung pada pasokan dari Jawa, Bali juga memiliki sejumlah pembangkit listrik sendiri yang berkontribusi pada stabilitas kelistrikan, di antaranya:

Insiden blackout ini menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya pemeliharaan dan keandalan infrastruktur kelistrikan, terutama jaringan transmisi utama seperti SUTET yang menghubungkan sistem kelistrikan antar pulau. ***

Editor : Ibnu Yunianto
#power outage bali #bali power outage #blackout #sutet PLN #blackout PLN #pemadaman listrik #pemadaman listrik di bali #bali blackout #SUTET 500 kV Paiton-Watudodol #SKLT #Bali Mati Lampu