Saya sering mendengar orang bilang, “Saya ingin menulis, tapi…” Lalu muncullah berbagai alasan: sibuk, nggak sempat, nggak ada ide, bingung mulai dari mana. Saya senyum saja, karena alasan-alasan itu sangat akrab di telinga. Saya juga dulu begitu. Menulis terasa berat karena kita tahu, begitu tulisan itu dipublikasikan, ia tak lagi milik kita. Ia akan dinilai, mungkin juga dikritik. Dan jujur saja, nggak semua orang siap untuk itu.
Tulisan pertama saya? Duh, jangan ditanya. Gagap, bingung, acak-acakan. Saya pernah menulis opini pendek di grup komunitas, lalu langsung down setelah seorang senior mengkritik habis-habisan. Tapi, di tengah semua itu, ada satu komentar yang bilang, “Tulisanmu jujur. Teruskan.” Kata-kata itu seperti pupuk pertama dalam tanah yang hampir gersang. Tidak langsung subur, tapi cukup membuat saya ingin coba lagi.
Saya kemudian sadar, bahwa tulisan itu seperti tanaman. Ia perlu waktu, perawatan, dan tentu saja pupuk. Dan pupuk terbaik sering kali bukan yang manis. Kritik, revisi, komentar pedas—semuanya bisa menyakitkan. Tapi kalau kita cukup lapang, semua itu akan menjadi nutrisi. Saya ingat guru saya pernah bilang, “Kalau kamu cuma mau ditaburi pujian, jangan jadi penulis. Jadi tukang roti aja, banyak yang suka manis.”
Seiring waktu, saya mulai belajar menerima kritik. Bukan karena saya jadi kebal, tapi karena saya tahu di sanalah letak proses tumbuhnya. Kita ini seperti besi mentah. Kalau mau jadi pisau tajam, harus dipanaskan, dipukul, dan diasah. Begitu pula tulisan. Kalau tak pernah digores, ia hanya akan tumpul.
Saya menulis hampir setiap hari sekarang. Tidak selalu bagus. Bahkan kadang saya hapus lagi di malam hari karena merasa terlalu emosional atau kurang berbobot. Tapi saya tetap menulis. Karena saya percaya, setiap tulisan yang kita buat adalah latihan. Bukan sekadar latihan bahasa, tapi juga latihan berpikir dan merasa.
Menulis itu menantang kita untuk jujur. Kita tak bisa sembarang beropini tanpa landasan. Tulisan itu mengasah ketelitian. Ia mengajarkan kita untuk berpikir pelan, memilih kata yang pas, dan menakar argumen dengan adil. Setiap kalimat adalah cermin dari cara berpikir kita. Dan dari situ, saya belajar menjadi lebih hati-hati dalam berbicara, bahkan dalam hidup sehari-hari.
Kadang saya iri pada penulis-penulis besar. Bagaimana mereka bisa menulis begitu dalam dan jernih? Tapi kemudian saya sadar, mereka pun pernah jadi pemula. Mereka pun pernah dikritik, bahkan mungkin lebih keras dari saya. Yang membedakan hanyalah keteguhan mereka untuk tetap menulis meski dicela.
Saya belajar bahwa tulisan yang bertahan adalah tulisan yang punya akar. Seperti pohon, ia tidak tumbang meski diterpa angin. Tapi kalau kita hanya jadi rumput, mudah diinjak dan cepat layu. Maka, saya memilih untuk menulis meski perlahan. Karena saya ingin tulisan saya punya akar, bukan sekadar tren yang berlalu.
Kalau kamu ingin jadi penulis, mulai saja. Jangan tunggu sempurna. Jangan tunggu sempat. Dan jangan takut salah. Kita semua pernah salah tulis, salah diksi, salah niat. Tapi penulis yang tangguh tahu bahwa semua itu adalah bagian dari perjalanan. Justru dari kesalahan itulah kita tumbuh.
Menulis itu bukan hanya menciptakan kalimat indah. Menulis adalah tentang membentuk diri. Ia adalah kerja sunyi, tapi punya gema yang panjang. Dan jika kamu cukup sabar, cukup jujur, dan cukup keras kepala, maka percayalah: tulisanmu akan menemukan jalannya. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, tulisanmu akan menjadi pupuk bagi orang lain yang sedang berani menumbuhkan kata pertamanya.
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen Pascasarjana UIN SGD Bandung