Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Fenomena Gerhana Bulan Total atau Blood Moon di Denpasar Terganggu Hujan

Dhian Harnia Patrawati • Senin, 8 September 2025 | 14:29 WIB
BLOOD MOON - Fenomena gerhana bulan total pada 14 Maret 2025 yang membuat bulan memantulkan cahaya merah.
BLOOD MOON - Fenomena gerhana bulan total pada 14 Maret 2025 yang membuat bulan memantulkan cahaya merah.

RADAR BALI - Fenomena gerhana bulan total atau Blood Moon yang seharusnya bisa dinikmati masyarakat Bali pada Senin (8/9) dini hari justru terganggu oleh cuaca mendung dan hujan.

Di Denpasar, Stasiun Geofisika BMKG yang melakukan pemantauan dengan teleskop terpaksa menghentikan siaran langsung di YouTube karena kondisi langit tidak mendukung.

“Kami mohon maaf Semeton, live YouTube kami matikan karena turun hujan di lokasi pengamatan (Sanglah, Denpasar),” tulis admin Stasiun Geofisika Denpasar.

Meski begitu, proses awal gerhana yang dimulai pada Minggu (7/9) pukul 23.26 WITA sempat terekam teleskop dan ditayangkan lewat siaran YouTube BMKG.

Puncak gerhana bulan di Denpasar terjadi pada Senin (8/9) pukul 02.11 WITA, dengan durasi total sekitar lima jam 29 menit 48 detik hingga berakhir pukul 04.56 WITA.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Denpasar, Rully Oktavia Hermawan, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi saat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar pada satu garis lurus sehingga Bulan masuk ke bayangan inti Bumi (umbra). Saat puncak gerhana, Bulan seharusnya tampak berwarna merah darah.

 

Warna merah pada Bulan disebabkan oleh pembiasan cahaya Matahari melalui atmosfer Bumi. Cahaya biru dengan panjang gelombang pendek terhambur lebih dulu, sementara cahaya merah dengan panjang gelombang lebih panjang berhasil lolos dan mencapai permukaan Bulan.

Dengan demikian, hanya cahaya merah yang mencapai Bulan karena warna lain telah dihamburkan oleh atmosfer Bumi.

Fenomena ini bisa disaksikan langsung tanpa alat bantu, meski penggunaan teleskop atau kamera tentu akan memberikan pengalaman lebih baik.

Fenomena alam ini terbagi menjadi beberapa fase. Fase penumbral (bayangan lembut yang tidak tampak jelas), gerhana sebagian, dan gerhana total, lalu kembali ke fase gerhana sebagian dan penumbra. Setiap tahapan menawarkan nuansa visual yang berbeda dan sangat memukau bagi pengamat langit. 

Tak hanya menawarkan keindahan, gerhana bulan total juga menunjukkan keteraturan orbit Bulan yang mengelilingi Bumi, serta Bumi bersama Bulan yang mengitari Matahari. Lengkungan bayangan Bumi di permukaan Bulan membuktikan bahwa Bumi berbentuk bulat.

Gerhana bulan total 8 September 2025 ini merupakan yang kedua pada tahun 2025, setelah sebelumnya terjadi pada 14 Maret yang hanya bisa disaksikan dari sebagian wilayah Indonesia timur.

BMKG memprediksi gerhana bulan total berikutnya baru akan terjadi lagi pada 19 September 2043, atau 18 tahun mendatang.

Fenomena langit ini bisa diamati di banyak wilayah di Asia, Australia, Afrika, hingga Eropa. Namun, hanya Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara serta Asia Timur yang berkesempatan menyaksikan rangkaian gerhana total secara penuh.

Sementara kawasan Amerika tidak kebagian momen ini karena sedang berada di siang hari.

Sayangnya, bagi masyarakat Denpasar, kesempatan menikmati keindahan Blood Moon kali ini harus terganggu mendung dan hujan. ***

 

Editor : Ibnu Yunianto
#denpasar #gerhana bulan total #shalat gerhana bulan #blood moon eclipse #bmkg #bloodmoon #8 september 2025 #7 september 2025 #bali #blood moon