Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Siapa Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Pengganti Sri Mulyani

Dhian Harnia Patrawati • Senin, 8 September 2025 | 23:56 WIB
MENTERI SENTRAL: Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa
MENTERI SENTRAL: Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa

JAKARTA, radarbali.jawapos.com - Presiden Prabowo melakukan reshuffle kabinet pada Senin (8/9). Reshuffle ini yang kedua setelah penggantian Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi dari Bambang Soemantri Brodjonegoro menjadi Brian Yuliarto.

Lima menteri diganti, yakni Menko Polkam Budi Gunawan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Abdul Kadir Karding, dan Menteri Pemuda dan Olah Raga Dito Ariotedjo.

Sri Mulyani Indrawati kabarnya digantikan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa. Yudhi adalah seorang ekonom dan pejabat publik yang dikenal memiliki rekam jejak panjang di sektor keuangan Indonesia.

Berikut profil, pendidikan, dan karier dari sosok Purbaya Yudhi Sadewa.

Latar Belakang Pendidikan dan Karier Profesional. Purbaya Yudhi Sadewa lahir di Bogor pada 7 Juli 1964. Ia menempuh pendidikan tinggi di bidang teknik dan ekonomi. Gelar Sarjana Teknik Elektro diperoleh dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Setelah itu, Purbaya melanjutkan studinya di Amerika Serikat, di mana ia meraih gelar Master of Science (M.Sc.) dan Doktor (Ph.D.) dalam bidang Ilmu Ekonomi dari Purdue University, Indiana.

Sebelum memasuki ranah pemerintahan, Purbaya meniti karier profesionalnya di sektor swasta. Ia pernah bekerja sebagai Field Engineer di Schlumberger Overseas SA, dan kemudian menduduki berbagai posisi penting di Danareksa, termasuk sebagai senior economist, direktur utama, dan chief economist.

Pengalaman ini membentuk pondasi keahliannya di bidang analisis ekonomi dan pasar modal.

 Baca Juga: Timnas Indonesia vs Lebanon Malam Hari Ini : Perkiraan Susunan Pemain dan Prediksi Skor

Peran di Sektor Publik dan Pemerintah

Purbaya Yudhi Sadewa mulai dikenal luas di kalangan publik saat ia dipercaya mengemban jabatan strategis di pemerintahan.

Pada Maret 2015, dia ditaril ke Istana sebagai Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis, Kantor Staf Kepresidenan (KSP) yang saat itu dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan.

 

Pada 28 Juli 2016, Luhut pindah menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman. Dua tahun kemudian, pada 21 Mei 2018, giliran Purbaya menyusul Luhut.

Di sana, dia kembali menjadi anak buah Luhut dan menjabat sebagai Deputi I Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim. Saat ini, Purbaya pun tercatat masih menjabat sebagai komisaris di Holding Tambang Indonesia (MIND ID) atau PT Inalum (Persero).

Namun, peran terpentingnya saat ini adalah sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), posisi yang ia emban sejak 3 September 2020.  Jabatannya selesai pada 3 September 2025.

 Baca Juga: Duh! Atlet Balap Motor Asal Badung Ini akhirnya Didiskualifikasi dari Porprov Bali 2025, Ini Penyebabnya

Dalam perannya di LPS, Purbaya bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas sistem perbankan nasional, terutama dalam menjamin simpanan nasabah di bank.

Sebagai sosok yang memiliki rekam jejak kuat di bidang ekonomi dan keuangan, Purbaya dianggap memiliki kapabilitas untuk memimpin Kementerian Keuangan. Sebagai anggota Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK), Yudhi sudah sangat memahami stabilitas ekonomi makro dan sektor perbankan. ***

Editor : M.Ridwan
#lembaga penjamin simpanan #Kabinet Prabowo #Purbaya Yudhi Sadewa #ihsg #Budi Gunawan #menteri keuangan #reshuffle kabinet #prabowo #sri mulyani #reshuffle #Purbaya Yudhi Sadewa gantikan Sri Mulyani #prabowo reshuffel 5 menteri