Sjafrie Sjamsoeddin dilantik sebagai Menteri Pertahanan pada 21 Oktober 2024. Sebelumnya, ia pernah menjadi Wakil Menteri Pertahanan (2010–2014) serta Asisten Khusus Menhan Bidang Manajemen Pertahanan (2019–2024).
Pria kelahiran Ujungpandang (Makassar), 30 Oktober 1952 ini merupakan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) 1974, satu angkatan dengan Presiden Prabowo.
Ia menempuh berbagai pendidikan militer strategis, mulai dari Lemhanas, Seskoad, Sesko TNI, hingga Pendidikan Pandu Udara (Pathfinder).
Karier militernya diawali di Kopassandha (cikal bakal Kopassus) sebagai Komandan Peleton Grup 1. Sejak 1970-an hingga 1990-an, ia menempati posisi penting di kesatuan elite itu, termasuk Komandan Kompi, Perwira Intel, Wakil Asisten Operasi, hingga Komandan Batalyon.
Sjafrie juga pernah menjadi bagian dari satuan pengawal Presiden Soeharto, yang membawanya bertugas ke berbagai negara.
Kariernya terus menanjak hingga menjabat Pangdam Jaya (1997–1999) pada masa transisi menuju Reformasi. Setelah itu, ia menduduki posisi strategis lain seperti Kepala Staf Kodam Jaya, Korsahli TNI, hingga Kapuspen TNI.
Pada 2005, ia masuk birokrasi sipil pertahanan sebagai Sekjen Dephan dan kemudian dipercaya menjadi Wamenhan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Rekam Jejak dan Prestasi
Sjafrie pensiun dari TNI dengan pangkat Letnan Jenderal (Bintang 3), namun kemudian dianugerahi pangkat kehormatan Jenderal Bintang 4 dalam acara Gelar Pasukan Kopassus di Bandung Barat, 10 Agustus 2025.
Ia juga dikenal aktif di luar dunia militer, termasuk menjadi Wakil Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games (Inasgoc) 2018. Pada 2019, ia ditunjuk Prabowo yang saat itu menjabat Menhan sebagai penasihat khusus.
Atas dedikasi dan jasanya, Sjafrie dianugerahi berbagai penghargaan seperti Bintang Mahaputera Utama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Satyalancana Dharma Bantala (kesetiaaan 24 tahun), hingga Master Parachutist Badge dari US Army.
Dekat dengan Prabowo
Selain rekam jejak militer yang panjang, kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto sejak sama-sama di Akabri 1974 turut memperkuat posisinya.
Penunjukan Sjafrie sebagai Menko Polhukam ad interim dinilai sebagai langkah wajar sekaligus strategis, mengingat kepercayaan pribadi maupun publik yang dimilikinya.
Kini, Sjafrie mengemban tugas ganda sebagai Menhan sekaligus Menko Polhukam ad interim. Meski sifatnya sementara, bukan tidak mungkin ia akan ditetapkan secara definitif sebagai pengganti Budi Gunawan.***