RADAR BALI - Hujan ekstrem yang mengguyur Bali selama lebih dari 24 jam sejak Selasa (9/9/2025) mengakibatkan banjir besar di sejumlah wilayah, terutama di Kota Denpasar.
Bencana ini dipicu oleh fenomena atmosfer Gelombang Ekuatorial Rossby, yang memicu pembentukan awan konvektif berintensitas tinggi dan menyebabkan curah hujan lebat hingga ekstrem di Bali.
Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah di Denpasar lumpuh total. Jalan-jalan utama, kawasan pasar, hingga permukiman padat terendam banjir dengan ketinggian 2–3 meter.
Bahkan, di Jalan Maruti, Kampung Wanasari, luapan Tukad Badung merendam bangunan hingga ke atap, sementara sebuah bangunan tiga lantai di Jalan Sulawesi ambruk akibat derasnya arus banjir.
Basarnas Bali Hadapi Kesulitan Akses
Kepala Kantor Basarnas Bali I Nyoman Sidakarya mengungkapkan bahwa tim SAR gabungan mengalami kesulitan menembus lokasi-lokasi banjir karena hampir seluruh wilayah Denpasar terendam.
“Tim sulit akses ke lokasi banjir, dimana-mana banjir. Setinggi truk saja sulit lewati banjir, kami masih berupaya menuju lokasi-lokasi terdampak,” ujarnya, Rabu (10/9).
Sejak pukul 05.20 WITA, Basarnas telah mengerahkan 14 personel, delapan orang ke Kampung Jawa dan enam lainnya ke Pulau Biak Taman Pancing. Namun, banjir terus meluas hingga menyebabkan evakuasi berlangsung lambat.
Hingga pukul 11.00 WITA, tim gabungan dari Basarnas, BPBD, dan PMI berhasil mengevakuasi dua balita, dua lansia, dan tiga orang dewasa di kawasan Pulau Misol, serta memastikan warga Pulau Biak 1 telah mengungsi ke bale banjar.
Sidakarya meminta warga melakukan evakuasi mandiri sebelum kondisi semakin parah. “Kami juga terbatas dalam personel dan perahu karet, jadi partisipasi masyarakat untuk menyelamatkan diri sangat penting,” katanya.
BPBD Denpasar Kekurangan Perahu Karet
Di sisi lain, BPBD Denpasar mengaku kewalahan dalam menghadapi banjir besar kali ini. Kepala Pelaksana BPBD Denpasar, I Made Kusuma Diputra, menyebut pihaknya hanya memiliki tiga unit perahu karet, jumlah yang sangat kurang untuk menjangkau puluhan titik banjir.
“Minimal kami perlu tambahan dua sampai tiga unit lagi, sehingga bisa lebih cepat menjangkau lokasi terdampak,” ungkapnya.
Berdasarkan catatan BPBD, setidaknya terdapat 43 titik banjir di Kota Denpasar, termasuk kawasan Monang-Maning, Panjer, Pemogan, dan Tegal Kerta.
TNI Turun Tangan
Untuk mempercepat evakuasi, Kodam IX/Udayana menurunkan puluhan prajurit bersama empat unit perahu karet LCR (Landing Craft Rubber Boat).
Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Piek Budyakto, langsung menginstruksikan Kodim 1611/Badung untuk memusatkan evakuasi di lokasi-lokasi terparah.
Dandim 1611/Badung Kolonel I Putu Tangkas Wiratawan, memimpin langsung proses evakuasi di kawasan Pasar Kumbasari dan Jalan Gajah Mada. “Kami fokuskan personel di titik terparah. Harapannya, banjir segera surut agar aktivitas warga bisa kembali normal,” ujarnya.
Analisis BMKG: Gelombang Rossby Jadi Pemicu
Menurut BMKG, akumulasi curah hujan harian di wilayah Bali mencapai kategori lebat (>50 mm/hari) hingga ekstrem (>150 mm/hari).
Fenomena Gelombang Rossby yang sedang aktif di ekuator memicu pertumbuhan awan-awan konvektif dengan kelembaban udara sangat tinggi hingga ketinggian 12.000 meter, sehingga memperparah curah hujan.
BMKG memperingatkan bahwa potensi hujan masih akan berlangsung dalam tiga hari ke depan dengan intensitas ringan hingga sedang. “Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan memperhatikan informasi cuaca terkini. Potensi banjir dan longsor masih mungkin terjadi,” tulis BMKG dalam rilis resminya.
Denpasar dan Jembrana Paling Terdampak
Selain Denpasar, banjir juga melanda Kabupaten Jembrana, Badung, dan Gianyar. Sementara di Tabanan dan Karangasem, hujan deras menyebabkan pohon tumbang yang menutup akses jalan dan menimpa kabel listrik.
Di Denpasar sendiri, pusat ekonomi dan perdagangan lumpuh. Jalan Gajah Mada, Jalan Hasanuddin, Jalan Diponegoro, Mahendradatta, dan Kebo Iwa Selatan terendam hingga tak bisa dilalui kendaraan.
Sekretaris BPBD Denpasar, Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menyebut pihaknya masih mendata jumlah korban dan pengungsi. “Genangan air bahkan mencapai 2–3 meter di beberapa lokasi, memaksa sebagian warga untuk mengungsi. Saat ini masih dalam penanganan,” ujarnya.***
Editor : Ibnu Yunianto