Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

BUMI MEMANAS! Fenomena Matahari di Selatan Ekuator, BMKG Beber Alasan Suhu Indonesia Tembus 37,6 Celsius Bisa Sampai Awal November 2025

Admin Radar Bali • Minggu, 19 Oktober 2025 | 12:14 WIB
Ilustrasi suhu udara memanas- JawaPos.com
Ilustrasi suhu udara memanas- JawaPos.com

 

Radar Bali.id-  Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini mengeluhkan peningkatan suhu udara yang terasa sangat menyengat dan cenderung semakin panas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan resmi terkait penyebab fenomena ini, sekaligus memprediksi kapan kondisi ini akan mereda.

BMKG mencatat, suhu maksimum harian di Indonesia dalam beberapa hari terakhir telah mencapai angka yang cukup ekstrem, dengan rekor tertinggi tercatat hingga 37, 6 derajat Celsius.

Suhu tinggi ini menyebar luas, terutama di wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, termasuk sebagian besar Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua.

Kenapa Suhu Udara Semakin Panas?

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa penyebab utama dari lonjakan suhu panas ini adalah kombinasi dari dua faktor atmosfer yang dominan:

  1. Gerak Semu Matahari

Penyebab utama adalah posisi Gerak Semu Matahari yang pada bulan Oktober ini berada di selatan ekuator. Posisi ini membuat wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, termasuk pulau-pulau besar seperti Jawa dan Nusa Tenggara, menerima penyinaran matahari yang lebih intensif sehingga cuaca terasa lebih panas.

  1. Monsun Australia dan Minimnya Awan

Faktor kedua adalah penguatan Angin Timuran atau yang dikenal sebagai Monsun Australia. Angin ini membawa massa udara yang kering dan hangat, yang berdampak pada minimnya pembentukan awan hujan di atmosfer.

Minimnya tutupan awan ini menyebabkan radiasi sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal dan langsung. Akibatnya, panas matahari terasa menyengat tanpa adanya "perisai" alami dari awan.

Suhu Maksimum Capai 37, 6 Derajat Celsius

BMKG mencatat, suhu udara maksimum di sejumlah wilayah telah mencapai puncaknya di sekitar 37,6 Celsius. Beberapa wilayah yang mengalami dampak suhu tinggi secara persisten antara lain:

Kapan Suhu Panas Akan Mereda?

BMKG memprakirakan bahwa kondisi cuaca panas dengan suhu maksimum yang tinggi ini masih akan berlanjut hingga akhir Oktober atau awal November 2025.

Meskipun demikian, BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi atmosfer yang labil pada periode peralihan musim ini juga berpotensi memicu hujan lokal yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah, terutama pada sore hingga malam hari.

Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, dan menghindari paparan langsung sinar matahari dalam waktu lama, terutama pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB, saat intensitas panas berada pada puncaknya.[dirangkum dari berbagai sumber*]

 

Editor : Hari Puspita
#bmkg #cuaca ekstrem #suhu panas