Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Strategi Brilian: Menjawab Krisis Kompetensi Guru di Kota Tasikmalaya

Siti Patimah • Selasa, 4 November 2025 | 17:36 WIB
Oleh: Nova Sariwati, S.Pd.I., M.Si. (Pengolah Data dan Informasi, Analis Pendidikan)
Oleh: Nova Sariwati, S.Pd.I., M.Si. (Pengolah Data dan Informasi, Analis Pendidikan)

 

Oleh: Nova Sariwati, S.Pd.I., M.Si. (Pengolah Data dan Informasi, Analis Pendidikan)

 

Di tengah fenomena transformasi digital dan implementasi Kurikulum Merdeka, sebuah pertanyaan fundamental menggantung di ruang-ruang kelas Kota Tasikmalaya, Siapkah para guru kita? Kualitas pendidikan adalah cermin langsung dari kompetensi pendidiknya. Upaya Pemerintah Kota Tasikmalaya memajukan sektor pendidikan kini dihadapkan pada tantangan senyap namun kronis, yakni memastikan para guru sebagai arsitek utama sumber daya manusia memiliki kapabilitas yang relevan dengan tuntutan abad ke-21. Selama berabad-abad, Tasikmalaya menjadi rujukan bagi para santri (pelajar) dari berbagai daerah untuk menimba ilmu agama. Identitas ini tidak hanya soal jumlah lembaga, tetapi juga sangat memengaruhi tatanan sosial, etos kerja, dan nilai-nilai budaya masyarakat Tasikmalaya yang dikenal sangat religius.

Bukan hanya sekadar memotret, namun berupaya membongkar tantangan struktural dan kultural yang menghambat lompatan kompetensi guru di "Kota Santri" ini. Julukan "Kota Santri" untuk Tasikmalaya merujuk pada identitas historis dan kultural kota tersebut sebagai salah satu pusat pendidikan Islam (pondok pesantren) terpenting dan tertua di Jawa Barat. Hal tersebut dikarenakan Tasikmalaya memiliki jumlah pondok pesantren yang sangat banyak, mungkin salah satu yang terpadat di Indonesia. Pesantren ini tersebar di berbagai penjuru kota dan kabupaten, mulai dari yang tradisional (salafiyah) hingga modern. Sejarah Panjang dimana banyak pesantren  yang usianya puluhan hingga ratusan tahun dan telah melahirkan banyak ulama besar serta tokoh nasional (seperti Pesantren Cipasung, Suryalaya, Condong, dll.).

Secara de jure, guru diwajibkan menguasai empat pilar kompetensi: pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Namun, realitas di lapangan (de facto) seringkali jauh dari ideal. Data Uji Kompetensi Guru (UKG) yang dirilis beberapa tahun terakhir secara nasional dan seringkali terefleksi di daerah menunjukkan bahwa penguasaan kompetensi pedagogik (cara mengajar) dan profesional (penguasaan materi) masih menjadi PR besar. Tantangan tersebut di sampaikan Kepala Dinas Pendidikan (KADISDIK) Kota Tasikmalaya, Bapak Dr. H. Rojab Riswan Taufik, Ap. S.Sos., M.Si.. Terdapat manifestasi dalam beberapa fenomena kunci diantaranya:

  1. Gagap Adaptasi Kurikulum Merdeka, dimana Kurikulum Merdeka menuntut pergeseran filosofis dari teacher-centered (guru sebagai pusat) menjadi student-centered (siswa sebagai pusat). Namun, banyak guru, terutama generasi senior, masih terjebak dalam "zona nyaman" administratif. Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), misalnya, berisiko menjadi sekadar formalitas penggugur kewajiban, kehilangan esensi pembentukan karakter dan nalar kritis siswa. Ini bukan sekadar tantangan teknis, tapi guncangan budaya mengajar.
  2. Kesenjangan Digital, diawalai saat terjadi awal pandemi Covid-19 di tahun 2020 adalah akselerator paksa digitalisasi. Namun, kini tantangannya bergeser. Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang digadang sebagai sarana pengembangan diri belum optimal terrealisasi secara massif di kota Tasikmalaya. Ada kesenjangan nyata antara guru di pusat kota yang difasilitasi teknologi dengan guru-guru di wilayah pinggiran yang masih berjuang dengan sinyal dan kepemilikan gawai. Lebih dari itu, tantangannya ada pada mindset menggunakan teknologi untuk inovasi, bukan sekadar presentasi Power Point.
  3. Stagnasi Profesionalisme, banyak guru yang berhenti belajar setelah mendapatkan sertifikasi. Rutinitas mengajar yang monoton tanpa inovasi membunuh nalar kritis siswa. Guru yang seharusnya menjadi fasilitator, masih banyak yang berperan sebagai "penceramah tunggal". Hasilnya, siswa pandai menghafal tetapi lemah dalam analisis, persis seperti yang dikeluhkan banyak industri saat merekrut lulusan baru.

Selanjutnya KADISDIK, menelisik persoalan kompetensi guru di kota Tasikmalaya bukanlah isu internal Dinas Pendidikan semata. Ini adalah pertaruhan masa depan Kota Tasikmalaya. Yang paling krusial adalah adanya ancaman "Lost Generation", jika guru gagal mengadopsi metode pengajaran yang relevan, siswa yang dihasilkan akan gagap bersaing. Mereka akan kesulitan menembus perguruan tinggi favorit atau pasar kerja yang kini menuntut keterampilan complex problem-solving dan kreativitas. Sebagai salah satu pusat ekonomi dan pendidikan di Priangan Timur, Tasikmalaya berkepentingan mencetak SDM unggul. Jika kualitas guru stagnan, bonus demografi terancam menjadi bencana demografi.

Solusi brilian yang akan di susun oleh KADISDIK yang di sampaikan kepada penulis adalah bukan saja menagendakan giat  bimbingan teknis (Bimtek) atau lokakarya seremonial, karena tidak akan lagi mempan. Kota Tasikmalaya membutuhkan intervensi yang lebih tajam dan terukur, diantaranya:

  1. Reaktivasi Total Komunitas Belajar (MGMP/K3S), dimana giat tersebut bukan sekadar tempat arisan atau berbagi info dinas. MGMP harus didesain ulang menjadi "laboratorium" bedah kurikulum. Dinas Pendidikan harus memfasilitasi agar komunitas ini diisi oleh narasumber ahli (bisa dari Guru Penggerak terbaik) dan fokus pada peer-learning untuk memecahkan masalah nyata di kelas.
  2. Pelatihan tepat sasaran berbasis data, minimalisir model pelatihan "satu ukuran untuk semua". Gunakan data dari Rapor Pendidikan dan hasil UKG untuk memetakan kebutuhan. Jika guru-guru di Kecamatan X lemah di bidang numerasi, kirim pakar ke sana. Jika guru Y butuh pelatihan AI untuk pembelajaran, fasilitasi.
  3. Sinergi akademis dengan kampus, di Tasikmalaya memiliki kampus-kampus keguruan yang capable. Di lanjutkan dengan kolaborasi strategis dengan LPTK sebagai mitra riset dan pengembangan Continuous Professional Development (CPD) yang berkelanjutan, bukan sekadar mitra seremonial.

KADISDIK Tasikmalaya untuk selanjutnya secara serius menghimbau guru-guru di Kota Tasikmalaya agar menerapkan “Tujuh Kebiasaan”, merujuk dari theory legendaris Stepen Covey, "The 7 Habits of Highly Effective People" (Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif), diantaranya:

  1. Jadilah proaktif (be proactive) Ini adalah kebiasaan mengambil inisiatif dan tanggung jawab atas hidup Anda. Orang proaktif fokus pada apa yang bisa mereka kendalikan, bukan menyalahkan keadaan atau orang lain.
  2. Mulai dengan tujuan akhir (begin with the end in mind) Ini adalah kebiasaan memiliki visi yang jelas. Tentukan prinsip, nilai, dan tujuan hidup terlebih dahulu.
  3. Dahulukan yang utama (put first things first) Ini adalah kebiasaan manajemen diri dan prioritas. Fokuslah pada hal-hal yang Penting, bukan hanya yang Mendesak.
  4. Berpikir menang (think win-win) Ini adalah pola pikir untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak. Ini bukan tentang "saya menang, kamu kalah," tapi tentang "bagaimana kita berdua bisa menang?"
  5. Berusaha memahami terlebih dahulu, baru dipahami (seek first to understand, then to be understood) Ini adalah kebiasaan komunikasi empatik. Sebelum memberikan saran, solusi, atau pendapat, dengarkan dan pahamilah sudut pandang orang lain dengan tulus terlebih dahulu.
  6. Wujudkan sinergi (synergize) Ini adalah kebiasaan kerja sama kreatif. Sinergi terjadi ketika hasil keseluruhan (misalnya, 1+1) bisa menjadi 3, 10, atau 100. Ini adalah tentang menghargai perbedaan dan membangun kekuatan bersama untuk mencapai hasil yang tidak bisa dicapai sendirian.
  7. Asahlah gergaji (sharpen the saw), ini merupakan kebiasaan untuk memperbarui diri Anda secara terus-menerus dalam empat dimensi utama kehidupan, diantaranya Fisik (Olahraga, nutrisi, istirahat), Mental (Membaca, belajar, menulis), Sosial/Emosional (Membangun hubungan, empati) dan yang terakhir Spiritual (Meditasi, alam, nilai-nilai).

Tentunya hal tersebut diatas merupakan upaya menyukseskan dan mendukung pencapaian Visi Kota Tasikmalaya, yaitu "Kota Industri, Jasa dan Perdagangan yang Religius, Inovatif, Maju dan Berkelanjutan". Dalam visi ini, pendidikan tidak lagi hanya sebagai pelengkap, melainkan menjadi fondasi sekaligus akselerator utama untuk mencapai setiap pilarnya. Hal ini sangat mendukung pada sektor pendidikan yang berkelanjutan. Untuk mencapai visi ini, ada lima (5) misi yang dijabarkan, berikut 5 misi kota Tasikmalaya:

  1. Mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan masyarakat religius serta berbudaya”.

Misi paling sentral dan menjadi tanggung jawab utama Dinas Pendidikan. Hal tersebut mendorong peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru/SDM berkualitas adalah output langsung dari sistem pendidikan. Tentunya untuk berdaya saing, pendidikan harus fokus pada peningkatan mutu kurikulum (kemampuan literasi, numerasi, dan sains/STEM). Sehingga menghasilkan lulusan yang siap kerja atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ditunjang dengan kehidupan religius dibentuk melalui pendidikan karakter.

  1. Mewujudkan ekonomi yang kuat, adil, dan berdaya saing”.

Peran pendidikan adalah penyuplai tenaga kerja yang kompeten untuk menggerakkan roda perekonomian. Khususnya Pendidikan Vokasi (SMK), harus selaras (link and match) dengan kebutuhan dunia industri, jasa, dan perdagangan yang menjadi kekuatan Tasikmalaya. Untuk selanjutnya ditunjang dengan kurikulum yang menanamkan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), sehingga lulusan tidak hanya mencari kerja tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru.

  1. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih”.

Menjalankan birokrasi pemerintahan (termasuk Dinas Pendidikan) secara transparan, akuntabel, efisien, dan bebas dari korupsi. Serta diterapkan dalam manajemen di Dinas Pendidikan dan satuan pendidikan (sekolah), dimana menerapkan prinsip tersebut baik dalam pengelolaan anggaran (BOS), data (Dapodik), dan pelayanan publik.

  1. Mewujudkan infrastruktur berkualitas dan merata”.

Misi ini menjadi landasan untuk perbaikan dan pembangunan infrastruktur sekolah (ruang kelas yang layak, laboratorium, perpustakaan) agar proses belajar mengajar berkualitas. Untuk mendukung Visi "Inovatif" dan "Maju", infrastruktur digital (internet dan perangkat TIK) di sekolah menjadi wajib. Ini adalah syarat agar siswa dapat mengembangkan kompetensi digital. Lebih lanjut memastikan tidak ada lagi kesenjangan kualitas sarana antara sekolah di pusat kota dan di wilayah pinggiran.

  1. Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan”.

Pendidikan adalah kunci untuk keberlanjutan sosial dan lingkungan. Secara umum pembangunan berkelanjutan berarti memastikan akses pendidikan yang merata untuk semua lapisan masyarakat (tidak ada yang tertinggal/angka putus sekolah rendah). Untuk ranah lingkungan, pendidikan menanamkan wawasan lingkungan hidup melalui program seperti Adiwiyata (sekolah peduli lingkungan) untuk generasi mendatang.

Secara khusus Kota Tasikmlaya Menyusun Program "Tasik Pintar" ini secara eksplisit berfokus pada, peningkatan mutu pendidikan, perbaikan fasilitas sekolah, pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu, dan bantuan bagi siswa miskin agar tetap bisa bersekolah. Singkatnya, untuk mencapai visi 2045, pendidikan di Kota Tasikmalaya diposisikan sebagai motor penggerak utama untuk menciptakan manusia yang kompetitif (Berdaya Saing), berkarakter (Agamis), dan peduli (Berkelanjutan).

Masa depan Kota Tasikmalaya sedang ditulis hari ini di ribuan ruang kelas. Ki Hajar Dewantara telah mengamanatkan bahwa pendidikan haruslah "menuntun" segala kodrat yang ada pada anak (kodrat alam dan kodrat zaman) agar mereka dapat mencapai "keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya".  Filosofi Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi teladan) menuntut guru menjadi pembelajar ulung terlebih dahulu sebelum menyuruh siswanya belajar. Ing Madyo Mangun Karso (di tengah membangun semangat) menuntut guru yang inovatif dan kolaboratif, bukan penceramah monoton. Dan Tut Wuri Handayani (di belakang mendorong) menuntut guru yang mampu mendorong siswa beradaptasi dengan relevansi zaman. Ini adalah upaya meningkatkan martabat guru yang sudah harum  sebagai "penuntun" sejati, demi melahirkan generasi Tasikmalaya yang tak hanya cerdas secara akademik, tapi juga selamat, berakhlak mulia, dan manusia yang bahagia.

 

Editor : Siti Patimah, SH
#opini