Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kalah dari 5 Negara ASEAN, ICMI Kritik Posisi Global Innovation Index Indonesia

Dhian Harnia Patrawati • Minggu, 7 Desember 2025 | 00:25 WIB

PIMPIN PERUBAHAN - Ketua ICMI Arif Satria dalam Silatnas ICMI di Jimbaran, Bali.
PIMPIN PERUBAHAN - Ketua ICMI Arif Satria dalam Silatnas ICMI di Jimbaran, Bali.

RADAR BALI — Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Arif Satria menyerukan agar organisasi tersebut mengambil peran sentral dalam memimpin inovasi dan keberlanjutan ekologis untuk menyongsong masa depan bangsa.

Seruan ini disampaikan dalam pembukaan Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) dan Milad ke-35 ICMI di Hotel Four Points Jimbaran, Bali.

Arif Satria, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara khusus menyoroti kondisi inovasi Indonesia saat ini yang dinilainya masih sangat tertinggal.

"Ini adalah keniscayaan. Ekonomi yang akan bertumpu ke depan adalah ekonomi berbasis pada kekuatan R&D, pada kekuatan human capital, kekuatan entrepreneurship," katanya.

"Kita tidak bisa lagi kita melulu hanya bergantung pada sumber daya alam," tegas Arif, mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi masa depan harus bertumpu pada riset dan inovasi.

ICMI Kritik Posisi Indonesia di Global Supply Innovation Index

Sayangnya, meski inovasi menjadi kunci, posisi Indonesia masih sangat memprihatinkan.

Mengacu pada Global Innovation Index (GII), Indonesia saat ini hanya berada di urutan ke-55 dunia.

Peringkat ini menempatkan Indonesia di urutan ke-6 di Asia Tenggara, kalah telak dari lima negara ASEAN lainnya, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Menghadapi tantangan tersebut, Arif Satria menyatakan bahwa ICMI harus bertransformasi.

Peran organisasi tidak bisa lagi sekadar menginspirasi, tetapi harus menjadi pemimpin aksi nyata.

ICMI dituntut untuk memimpin inovasi dan melakukan advokasi publik sebagai bagian dari civil society.

Transformasi peran ini diwujudkan dengan dorongan agar ICMI berperan langsung dalam hilirisasi inovasi melalui program-program di daerah seperti Innovation Hub dan jaringan sekolah Insan Cendekia.

Selain inovasi, ICMI juga didesak menyumbangkan pandangan kritis mengenai prinsip-prinsip sustainability, mulai dari pengelolaan hutan, tambang, pangan, hingga pembangunan energi.

Secara paralel, peran ICMI ini juga akan mendukung visi besar Indonesia menuju Generasi Emas 2045.

Selain inovasi, ICMI juga memperkuat fokus pada pendidikan usia dini, yang disebut Arif sebagai investasi terbesar bagi kemajuan ekonomi mengutip peraih Nobel James Heckman.

Pengembangan ekonomi syariah dan industri halal juga menjadi fokus utama pembahasan sebagai potensi masa depan ekonomi nasional.***


Editor : Ibnu Yunianto
#GII #arif satria #Silatnas ICMI #bali